Ikhwan Saputera

Setiap Waktu adalah Belajar, Setiap Tempat adalah Sekolah, Setiap Orang adalah Guru

Tuesday, April 23, 2019

Sudut Pandang Seorang Pedagang Dengan Hikmah

Tersebutlah seorang yang shaleh bernama Abu Dzak. Ia bekerja sebagai pedagang di salah satu pasar di Timur Tengah.  Suatu ketika, tersiar kabar bahwa pasar tersebut terbakar.  Seluruh warung dan toko di pasar itu ludes terbakar. Abu Dzak bergegas menuju pasar melihat keadaan tokonya.
Abu Dzak melihat seluruh warung dan toko di pasar itu memang telah habis terbakar.
“Alhamdulillah,  tokoku tidak terbakar,” ucapnya disusul sujud syukur.
Memang, hanya toko Abu Dzak yang selamat, bahkan sedikit pun tidak tersentuh jilatan api.  Abu Dzak tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih kepada Allah SWT.
Tetapi,  segera setelah itu Abu Dzak menangis sejadi-jadinya. Mengapa ia menangis ?  Bukankah tokonya tidak ikut terbakar ? Tenyata Abu Dzak menangis menyesali kesalahannya.  Kesalahan apakah yang telah diperbuat Abu Dzak ?  Yaitu bersenang-senang dan bahagia,  sementara teman dan saudaranya menderita karena warung dan toko mereka hangus terbakar.
“Tidak selayaknya aku merasa senang seperti ini,  seharusnya aku turut merasakan kesedihan yang dirasakan teman-teman dan saudarasaudara yang terbakar tokonya,” ratapnya.
Setelah peristiwa itu, Abu Dzak terus meminta ampun kepada Allah SWT, dan ia berharap semoga Allah SWT mengampuni dosanya.


Hikmah Kisah
Hidup didunia ini harus saling kasih-mengasihi  sebagai saudara ibarat sebatang tubuh, apabila salah satu anggota sakit  maka yang lain akan merasakan sakit juga. Persaudaraan diibaratkan sebagai bangunan melengkapi dan memperkuat bagian bangunan yang lain. Inilah makna indahnya  persaudaraan

No comments:

Post a Comment