Tersebutlah seorang yang shaleh bernama Abu Dzak. Ia bekerja sebagai
pedagang di salah satu pasar di Timur Tengah. Suatu ketika, tersiar
kabar bahwa pasar tersebut terbakar. Seluruh warung dan toko di pasar
itu ludes terbakar. Abu Dzak bergegas menuju pasar melihat keadaan
tokonya.
Abu Dzak melihat seluruh warung dan toko di pasar itu memang telah habis terbakar.
“Alhamdulillah, tokoku tidak terbakar,” ucapnya disusul sujud syukur.
Memang, hanya toko Abu Dzak yang selamat, bahkan sedikit pun tidak
tersentuh jilatan api. Abu Dzak tak henti-hentinya mengucap syukur dan
berterima kasih kepada Allah SWT.
Tetapi, segera setelah itu Abu Dzak menangis sejadi-jadinya. Mengapa
ia menangis ? Bukankah tokonya tidak ikut terbakar ? Tenyata Abu Dzak
menangis menyesali kesalahannya. Kesalahan apakah yang telah diperbuat
Abu Dzak ? Yaitu bersenang-senang dan bahagia, sementara teman dan
saudaranya menderita karena warung dan toko mereka hangus terbakar.
“Tidak selayaknya aku merasa senang seperti ini, seharusnya aku
turut merasakan kesedihan yang dirasakan teman-teman dan saudarasaudara
yang terbakar tokonya,” ratapnya.
Setelah peristiwa itu, Abu Dzak terus meminta ampun kepada Allah SWT, dan ia berharap semoga Allah SWT mengampuni dosanya.
Hikmah Kisah
Hidup didunia ini harus saling kasih-mengasihi sebagai saudara
ibarat sebatang tubuh, apabila salah satu anggota sakit maka yang lain
akan merasakan sakit juga. Persaudaraan diibaratkan sebagai bangunan
melengkapi dan memperkuat bagian bangunan yang lain. Inilah makna
indahnya persaudaraan

No comments:
Post a Comment