Ikhwan Saputera

Setiap Waktu adalah Belajar, Setiap Tempat adalah Sekolah, Setiap Orang adalah Guru

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, July 04, 2026

Cinta yang Dewasa: Belajar Mencintai Menurut Erich Fromm

"Kebanyakan orang menghabiskan hidup untuk mencari orang yang tepat untuk dicintai, tetapi sedikit yang bertanya apakah dirinya sudah mampu mencintai dengan benar."- Erich Fromm

Di era media sosial, aplikasi kencan, dan budaya yang sering mengukur seseorang dari penampilan, pekerjaan, atau status sosial, banyak orang percaya bahwa kebahagiaan akan datang jika berhasil menemukan pasangan yang "sempurna". Kita sibuk mencari orang yang tepat, tetapi lupa mempersiapkan diri menjadi orang yang tepat.

Lebih dari setengah abad yang lalu, seorang filsuf dan psikolog sosial bernama Erich Fromm mengajukan pertanyaan yang mengguncang cara berpikir manusia tentang cinta:

"Apakah persoalan cinta adalah menemukan orang yang tepat, atau justru belajar bagaimana mencintai?"

Pertanyaan sederhana ini ternyata mengubah seluruh paradigma tentang cinta.

Siapakah Erich Fromm?

Erich Fromm (1900–1980) adalah seorang filsuf, psikolog sosial, dan psikoanalis berkebangsaan Jerman-Amerika. Ia dikenal sebagai salah satu pemikir humanis paling berpengaruh pada abad ke-20.

Lahir di Frankfurt, Jerman, Fromm menyaksikan secara langsung dampak Perang Dunia I, bangkitnya Nazisme, dan perubahan sosial yang begitu cepat. Pengalaman tersebut membuatnya bertanya mengapa manusia sering kehilangan makna hidup, kebebasan, bahkan kemampuan untuk mencintai.

Sebagai anggota Frankfurt School, ia memadukan pemikiran Sigmund Freud, Karl Marx, filsafat eksistensial, dan nilai-nilai humanisme. Hasil pemikirannya melahirkan sejumlah karya besar, salah satunya The Art of Loving (1956), sebuah buku yang hingga kini masih menjadi rujukan dalam memahami cinta secara lebih dewasa.

Cinta Bukan Soal Menemukan, tetapi Menjadi

Menurut Fromm, kesalahan terbesar manusia modern adalah menganggap bahwa cinta bergantung pada objeknya.

Kita sering berkata:

"Kalau nanti aku menemukan pasangan yang baik, aku pasti bisa bahagia."

Padahal, menurut Fromm, persoalannya bukan berada pada pasangan, melainkan pada kemampuan diri sendiri untuk mencintai.

Banyak orang menghabiskan waktu mempercantik penampilan, meningkatkan karier, memperluas relasi, bahkan mencari pasangan dengan berbagai kriteria. Namun sangat sedikit yang melatih kesabaran, belajar memahami orang lain, mengendalikan ego, atau membangun komunikasi yang sehat.

Karena itu, Fromm menyimpulkan bahwa masalah utama bukanlah kurangnya orang yang layak dicintai, melainkan kurangnya manusia yang mampu mencintai.

Mengapa Cinta Disebut Sebagai Seni?

Judul buku Fromm sangat menarik: The Art of Loving atau Seni Mencintai.

Mengapa seni?

Karena menurutnya, seni tidak pernah lahir secara instan.

Tidak ada seorang pianis yang mahir tanpa latihan bertahun-tahun.

Tidak ada pelukis hebat tanpa disiplin.

Tidak ada dokter yang ahli tanpa belajar.

Lalu mengapa banyak orang mengira bahwa setelah menikah, mereka otomatis menjadi ahli dalam mencintai?

Bagi Fromm, mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari.

Cinta bukan hanya perasaan.

Perasaan bisa datang dan pergi.

Namun kemampuan mencintai adalah karakter yang dibangun melalui latihan panjang.

Empat Pilar Cinta yang Dewasa

Fromm menjelaskan bahwa cinta yang matang berdiri di atas empat fondasi utama: Knowledge, Respect, Care, dan Responsibility.

Keempatnya saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh.

1. Knowledge (Pengetahuan)

Mengenal seseorang tidak cukup hanya mengetahui nama, pekerjaan, atau hobinya.

Pengetahuan dalam cinta berarti memahami dunia batin seseorang.

Memahami apa yang membuatnya bahagia.

Mengetahui luka yang pernah ia alami.

Mengerti impian, kecemasan, dan harapannya.

Semakin seseorang dikenal secara mendalam, semakin mudah ia dicintai dengan benar.

Dalam Islam, konsep ini sangat dekat dengan makna ta'aruf, yaitu proses saling mengenal sebagai jalan menuju hubungan yang lebih bermakna.

2. Respect (Menghormati)

Menghormati berarti menerima bahwa pasangan adalah manusia yang utuh, bukan milik yang dapat dikendalikan.

Banyak hubungan gagal bukan karena kurang cinta, melainkan karena terlalu banyak keinginan untuk mengubah pasangan menjadi seperti diri sendiri.

Cinta yang dewasa berkata,

"Aku menghargai dirimu sebagaimana Allah menciptakanmu."

Sedangkan cinta yang belum matang berkata,

"Aku akan mencintaimu jika kamu berubah sesuai keinginanku."

Perbedaan keduanya sangat mendasar.

3. Care (Perhatian)

Perhatian bukan hanya memberi hadiah atau mengucapkan kata-kata romantis.

Perhatian adalah kesediaan hadir.

Mendengarkan ketika pasangan berbicara.

Menenangkan ketika ia sedang gelisah.

Memberikan waktu di tengah kesibukan.

Fromm pernah memberikan ilustrasi sederhana.

Jika seseorang berkata bahwa ia mencintai bunga tetapi tidak pernah menyiramnya, maka sebenarnya ia tidak mencintai bunga tersebut.

Begitu pula dalam hubungan manusia.

Cinta selalu terlihat melalui tindakan.

4. Responsibility (Tanggung Jawab)

Banyak orang memahami tanggung jawab sebagai beban.

Padahal menurut Fromm, tanggung jawab adalah kemampuan untuk merespons kebutuhan orang yang kita cintai dengan kesadaran, bukan keterpaksaan.

Suami yang bekerja untuk keluarganya bukan semata-mata karena kewajiban hukum, melainkan karena cinta.

Istri yang menjaga keharmonisan rumah tangga juga bukan sekadar menjalankan peran sosial, tetapi sebagai bentuk kasih sayang.

Dalam cinta yang dewasa, tanggung jawab adalah ekspresi cinta yang paling nyata.

Menguasai Seni Mencintai

Jika cinta adalah seni, bagaimana cara mempelajarinya?

Fromm menyebut empat syarat utama.

Pengetahuan

Belajar memahami manusia.

Belajar psikologi.

Belajar agama.

Belajar komunikasi.

Semakin luas pemahaman seseorang tentang manusia, semakin matang pula cara ia mencintai.

Latihan

Tidak ada cinta yang tumbuh hanya melalui teori.

Mendengar dengan penuh perhatian.

Mengendalikan emosi.

Belajar meminta maaf.

Belajar memaafkan.

Semua itu adalah latihan mencintai.

Disiplin

Hubungan tidak akan bertahan hanya dengan rasa cinta.

Ia membutuhkan disiplin.

Disiplin menjaga komunikasi.

Disiplin menepati janji.

Disiplin menjaga kepercayaan.

Disiplin mengendalikan ego.

Kesabaran

Hubungan yang sehat membutuhkan waktu.

Tidak ada pohon yang langsung berbuah sehari setelah ditanam.

Begitu pula cinta.

Ia tumbuh perlahan melalui pengalaman bersama.

Relevansi dengan Kehidupan Pernikahan

Dalam kehidupan rumah tangga, banyak pasangan datang dengan harapan yang tinggi, tetapi minim persiapan untuk menjadi pribadi yang matang.

Mereka berharap pasangan selalu memahami.

Namun mereka sendiri belum belajar memahami.

Mereka ingin dihargai.

Namun belum terbiasa menghargai.

Mereka ingin dicintai.

Namun belum belajar mencintai.

Di sinilah relevansi pemikiran Fromm.

Pernikahan yang bahagia bukan dibangun oleh dua manusia yang sempurna, melainkan oleh dua manusia yang terus belajar menjadi lebih baik setiap hari.

Perspektif Islam: Cinta sebagai Ibadah

Menariknya, pemikiran Fromm memiliki banyak titik temu dengan ajaran Islam.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Ketiga konsep ini tidak hanya berbicara tentang perasaan, tetapi juga tindakan.

Sakinah mengajarkan ketenangan.

Mawaddah mengajarkan cinta yang aktif.

Rahmah mengajarkan kasih sayang yang diwujudkan dalam pengorbanan.

Jika dibandingkan dengan pemikiran Fromm, maka:

  • Knowledge mengajarkan pentingnya ta'aruf dan saling memahami.
  • Respect sejalan dengan prinsip saling memuliakan (mu'asyarah bil ma'ruf).
  • Care tampak dalam sikap saling melayani dan menjaga pasangan.
  • Responsibility tercermin dalam pemenuhan hak dan kewajiban sebagai bentuk amanah.

Perbedaannya terletak pada fondasi spiritual. Fromm melihat cinta terutama sebagai kemampuan manusia yang perlu dilatih, sedangkan Islam memandang cinta sebagai anugerah yang harus dipelihara dengan ilmu, akhlak, dan ketakwaan. Dengan demikian, mencintai bukan hanya seni kehidupan, tetapi juga bagian dari ibadah kepada Allah.

Refleksi: Pertanyaan yang Perlu Kita Ajukan

Sebelum bertanya:

"Siapa yang akan mencintaiku?"

Mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu:

  • Sudahkah aku menjadi pribadi yang layak dipercaya?
  • Sudahkah aku belajar mendengarkan tanpa menghakimi?
  • Sudahkah aku mampu menghormati perbedaan?
  • Sudahkah aku bertanggung jawab terhadap orang yang kucintai?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar mencari pasangan yang ideal.

Penutup

Erich Fromm mengingatkan kita bahwa cinta bukanlah keberuntungan karena menemukan seseorang yang sempurna. Cinta adalah proses pendewasaan diri. Semakin dewasa seseorang, semakin sedikit ia menuntut untuk dicintai dan semakin besar kemampuannya untuk mencintai.

Dalam perspektif Islam, pendewasaan itu mencapai puncaknya ketika cinta tidak lagi berpusat pada kepentingan diri, tetapi menjadi jalan untuk menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan pengabdian kepada Allah. Karena itu, rumah tangga yang kokoh bukan dibangun oleh dua hati yang selalu berbunga-bunga, melainkan oleh dua jiwa yang terus belajar mencintai dengan ilmu, akhlak, kesabaran, dan tanggung jawab.

"Cinta yang sejati bukan dimulai ketika kita menemukan orang yang sempurna, tetapi ketika kita terus menyempurnakan cara kita mencintai orang yang Allah titipkan kepada kita."

Thursday, April 16, 2026

Anatomi Kredibitas Komunikator (Ethos, Pathos dan Logos)

Ethos, Pathos dan Logos

Mengapa Kita Mendengarkan? Rahasia di Balik Pesan yang Memikat Hati

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa saat si A bicara, kita seolah tersihir untuk mendengarkan, sementara saat si B bicara—meskipun topiknya sama—kita justru sibuk melihat jam tangan atau bermain ponsel?

Ternyata, sejak zaman Yunani kuno, seorang filsuf bernama Aristoteles sudah menjelaskan kemampuan untuk memengaruhi orang lain bukan sekadar soal bakat lahir atau keberuntungan. Jauh di masa Yunani Kuno, rahasia ini sudah dibongkar melalui tiga pilar utama yang disebut Ethos, Pathos, dan Logos. Ketiganya adalah "anatomi" dari kredibilitas seorang komunikator. Mari kita bedah satu per satu secara sederhana.

1. Ethos: Tentang Siapa Anda, Bukan Hanya Apa yang Anda Ucapkan

Bayangkan seseorang berbicara tentang pentingnya kejujuran, namun ia sendiri memiliki rekam jejak yang buruk dalam hal integritas. Apakah Anda akan percaya? Tentu sulit.

Inilah yang disebut Ethos. Ini adalah fondasi kepercayaan. Audiens tidak hanya menilai kata-kata kita, tapi juga melihat siapa yang mengucapkannya. Rekam jejak (track record) adalah segalanya di sini. Tanpa ethos yang kuat, pesan sehebat apa pun akan membentur dinding skeptisisme. Intinya: jadilah ahli di bidang Anda dan miliki integritas yang selaras dengan ucapan Anda.

Itulah ethos: kekuatan dari reputasi, pengalaman, dan integritas.

Ethos bukan hanya soal gelar, tapi tentang rekam jejak hidup.
Orang akan melihat:

  • Apakah dia konsisten?
  • Apakah dia pernah membuktikan ucapannya?
  • Apakah hidupnya selaras dengan kata-katanya?

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mendengar dengan telinga, tapi juga “membaca” dengan hati.

 

2. Pathos: Menggerakkan Hati, Bukan Sekadar Telinga

Komunikasi bukan sekadar transfer data. Jika hanya data, kita cukup membaca buku manual. Manusia adalah makhluk emosional, dan di sinilah Pathos berperan.

Pathos adalah kemampuan untuk menularkan semangat dan rasa. Lihatlah bagaimana Bung Karno berpidato; ia tidak hanya menyampaikan fakta, tapi ia "membakar" jiwa pendengarnya dengan gairah dan emosi. Seorang komunikator yang andal tahu kapan harus menyentuh perasaan audiens agar pesan tersebut terasa personal, hidup, dan tak terlupakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ini terlihat sederhana:

  • Cara kita menatap saat berbicara
  • Nada suara kita
  • Ketulusan yang terasa

Tanpa pathos, komunikasi terasa datar.
Dengan pathos, kata-kata menjadi hidup.

 

3. Logos: Masuk Akal agar Tetap Berbekas

Setelah kepercayaan didapat (Ethos) dan hati tersentuh (Pathos), pikiran manusia tetap butuh kepastian. Di sinilah Logos masuk.

Argumen kita harus masuk akal. Kita perlu memberikan alasan yang cerdas, data yang valid, dan alur berpikir yang sistematis. Tanpa Logos, sebuah pesan mungkin hanya akan menjadi ledakan emosi sesaat yang cepat menguap. Logika yang kuat adalah kunci untuk mengubah cara berpikir seseorang secara permanen.

Di sinilah logos bekerja—kekuatan logika.

Orang akan bertanya dalam hati:

  • Apakah ini masuk akal?
  • Apakah ada bukti?
  • Apakah ini bisa dipertanggungjawabkan?

Logos membuat komunikasi tidak hanya menyentuh, tetapi juga meyakinkan secara rasional.

Tanpa logos, komunikasi bisa terasa indah—tapi kosong.
Dengan logos, pesan menjadi kuat dan bertahan lama dalam pikiran.

 

Menjadi Komunikator yang Memanusiakan

Lalu, apa jadinya jika kita menggabungkan ketiganya?

Kita akan menjadi apa yang disebut sebagai Komunikator Humanistik. Ini bukan sekadar tentang teknik persuasi agar orang lain mengikuti kemauan kita. Ini adalah tentang menjadi pribadi yang jujur, tulus, dan sadar akan tanggung jawab sosial.

Menguasai Ethos, Pathos, dan Logos berarti Anda sedang berhenti sekadar "berbicara" dan mulai membangun jembatan kepercayaan. Karena pada akhirnya, komunikasi terbaik adalah komunikasi yang lahir dari karakter yang utuh dan niat yang tulus untuk memberi manfaat.

Ethos membuat orang percaya.
Pathos membuat orang merasakan.
Logos membuat orang memahami.

Jika ketiganya bersatu, komunikasi tidak lagi sekadar kata-kata.
Ia menjadi jembatan antara hati, pikiran, dan tindakan.

Di titik inilah lahir apa yang bisa kita sebut sebagai komunikator yang humanis
bukan hanya pintar berbicara, tapi juga:

  • jujur
  • sadar tanggung jawab
  • dan tulus dalam menyampaikan kebenaran

Menjadi komunikator yang baik bukan tentang berbicara lebih banyak.

Tapi tentang:

  • hidup yang bisa dipercaya (ethos)
  • hati yang bisa dirasakan (pathos)
  • dan pikiran yang bisa dipahami (logos)

Sudahkah pesan Anda mengandung ketiga pilar ini hari ini?

Saturday, March 28, 2026

Hidup Seperti Pemanah: Belajar Ikhtiar dan Ikhlas dari Filsafat Stoikisme


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa gelisah oleh hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Kita sudah berusaha keras, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Kita merencanakan dengan matang, tetapi realitas berjalan berbeda. Di titik inilah, filsafat Stoikisme menawarkan sebuah cara pandang yang sederhana, namun sangat dalam: hidup seperti seorang pemanah.

1. Saat Membidik: Totalitas dalam Ikhtiar

Bayangkan seorang pemanah berdiri dengan busurnya. Ia tidak bermain-main. Seluruh kesadarannya hadir di satu titik: sasaran.

Tangannya mantap, napasnya teratur, pikirannya fokus. Ia tidak setengah-setengah. Ia mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk memastikan anak panah melesat dengan tepat.

Dalam hidup, ini adalah fase ikhtiar maksimal.

Kita sering gagal bukan karena takdir, tetapi karena usaha kita belum sepenuhnya utuh. Kita bekerja sambil terdistraksi, belajar sambil setengah hati, berdoa tanpa kesungguhan.

Padahal, filosofi ini mengajarkan:

Lakukan bagianmu sebaik mungkin, seolah-olah itulah satu-satunya hal yang bisa kamu kendalikan.

Contoh sederhana:
Seorang mahasiswa yang sedang menyusun tesis. Ia tidak hanya menulis sekadarnya, tetapi membaca dengan serius, berdiskusi, memperbaiki, dan mengulang. Ia fokus pada kualitas proses, bukan sekadar cepat selesai.

2. Saat Melepaskan Anak Panah: Mengakui Batas Kendali

Namun, ada satu momen penting: ketika anak panah dilepaskan.

Pada detik itu, kendali berpindah. Angin bisa berhembus, jarak bisa meleset, atau faktor lain bisa mengubah arah. Sang pemanah tidak lagi berkuasa atas hasil akhir.

Inilah pelajaran kedua:
tidak semua hal dalam hidup bisa kita kendalikan.

Seringkali kita menderita bukan karena kegagalan itu sendiri, tetapi karena kita ingin mengontrol sesuatu yang memang bukan wilayah kita.

Contoh nyata:
Anda sudah bekerja keras dalam sebuah proyek, tetapi keputusan akhir tetap ada di atasan atau sistem. Jika Anda memaksakan kontrol atas hasil itu, yang muncul adalah stres. Namun jika Anda memahami batas kendali, hati menjadi lebih lapang.

3. Antara Usaha dan Doa: Tawakal yang Aktif

Di sinilah konsep ini menjadi sangat dekat dengan nilai spiritual dalam Islam: tawakal.

Bukan tawakal yang pasif, tetapi tawakal setelah usaha maksimal.

Seorang pemanah tidak berkata:
"Saya pasrah saja tanpa membidik dengan benar."

Sebaliknya, ia berkata:
"Saya akan membidik sebaik mungkin, lalu saya serahkan hasilnya."

Inilah keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri. Antara kerja keras dan keikhlasan.

Contoh dalam kehidupan:
Seorang pedagang berusaha jujur, meningkatkan kualitas produk, melayani pelanggan dengan baik. Namun hasil penjualan tidak selalu sesuai harapan. Ia tidak putus asa, karena ia sadar: tugasnya adalah berusaha, bukan menentukan rezeki.

4. Hidup Tanpa Penyesalan: Kedamaian di Masa Depan

Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah penyesalan.

"Seandainya dulu saya lebih sungguh-sungguh…"

Namun, filosofi “pemanah” memberi kita jalan keluar:
Jika hari ini kita sudah berikhtiar maksimal, maka masa depan tidak akan dipenuhi penyesalan.

Karena kita tahu:

Kita telah melakukan bagian kita dengan sepenuh hati.

Hasil boleh berbeda, tetapi usaha tidak pernah mengkhianati ketenangan batin.

Penutup: Menguasai Proses, Mengikhlaskan Hasil

Hidup seperti pemanah mengajarkan kita dua hal penting:

  • Kendalikan apa yang bisa kita kendalikan: usaha, niat, fokus, dan tindakan.

  • Lepaskan apa yang tidak bisa kita kendalikan: hasil, respon orang lain, dan takdir.

Di antara dua hal itulah, kita menemukan ketenangan.

Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita tidak lagi memikul beban yang bukan milik kita.

Jika kita mampu hidup dengan cara ini, maka setiap “anak panah” yang kita lepaskan bukan lagi sumber kecemasan—melainkan bukti bahwa kita telah menjalani hidup dengan penuh kesadaran, usaha, dan keikhlasan.

Saturday, January 10, 2026

Hakikat Waktu: Sebuah Risalah Filosofis tentang Eksistensi, Rahmat, dan Amanat

Tulisan ini berangkat dari materi yang saya sampaikan dalam khutbah Jumat di awal pergantian tahun, lalu saya susun kembali dalam bentuk tulisan reflektif agar dapat dibaca lebih luas. Semoga setiap kata yang tertulis menjadi jalan kebaikan dan pengingat bagi kita semua.

 1.0 Pendahuluan: Misteri Waktu dan Panggilan untuk Merenung

Waktu adalah sebuah misteri eksistensial yang terus berjalan—ia tidak menunggu, tidak menoleh ke belakang, dan tidak akan pernah kembali. Ia mengalir dalam satu arah, sebuah arus konstan yang membawa kita dari kelahiran menuju ketiadaan. Dalam keheningannya, waktu membentuk kanvas di mana seluruh narasi kemanusiaan dilukis. Namun, bagi seorang mukmin yang merenung, pergantian detik, hari, dan tahun bukanlah sekadar perubahan angka yang arbitrer di kalender. Ia adalah sebuah sinyal metafisik yang menandakan bahwa jatah tinggal kita di muka bumi ini secara perlahan namun pasti terus dikurangi. Ini adalah panggilan untuk menyadari bahwa hidup tidak cukup sekadar dijalani; ia harus diarahkan dengan kesadaran dan tujuan.

Perenungan mendalam tentang waktu membawa kita pada serangkaian pertanyaan eksistensial yang fundamental. Pertanyaan-pertanyaan ini mengalihkan fokus kita dari sekadar pengakuan atas keberadaan waktu menuju refleksi etis atas penggunaannya. Teks suci dan tradisi kebijaksanaan Islam menuntun kita untuk bertanya:

  • Bukan hanya bahwa waktu itu ada, tetapi bagaimana kita menggunakannya.

  • Bukan hanya bahwa kita hidup, tetapi untuk apa hidup ini dijalani.

  • Bukan hanya bahwa umur bertambah, tetapi apakah hidup kita bertambah bernilai di sisi Allah.

Risalah ini berargumen bahwa pemahaman yang mendalam dan transformatif tentang waktu dalam kerangka Islam dapat diurai melalui tiga hakikat fundamental. Ketiganya berfungsi sebagai pilar-pilar teologis yang menopang sebuah kehidupan yang bermakna. Waktu, dalam esensinya, adalah Sunatullah (Hukum Alam yang Tak Terhindarkan), Rahmat (Kasih Sayang Ilahi yang Tak Terhingga), dan Amanat (Tanggung Jawab Suci yang Harus Ditunaikan). Dengan memahami ketiga dimensi ini, kita dapat mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, bukan dengan spekulasi abstrak, melainkan dengan tindakan nyata yang berakar pada kesadaran iman.

Mari kita telusuri hakikat pertama dari waktu, yaitu fondasi dari segala realitas kita: waktu sebagai ketetapan Allah yang tak terbantahkan.

2.0 Waktu sebagai Sunatullah: Menerima Keniscayaan dalam Arus Ketetapan Ilahi

Memahami waktu sebagai Sunatullah adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan eksistensial. Konsep ini meletakkan fondasi bagi sikap kita dalam menghadapi realitas yang tak terelakkan, yaitu bahwa waktu beroperasi di bawah hukum alam yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Mengakui hal ini bukanlah bentuk kepasrahan yang pasif, melainkan sebuah pengakuan jujur atas posisi kita di dalam tatanan kosmos yang agung.

Sunatullah adalah hukum alam yang absolut dan tak terelakkan. Pergantian siang menjadi malam, musim semi menjadi musim gugur, dan perputaran tahun demi tahun adalah manifestasi dari ketetapan Allah yang berjalan dengan presisi sempurna. Pada tingkat personal, hukum ini juga berlaku tanpa kecuali: kulit yang dahulu kencang pada akhirnya akan keriput, rambut yang hitam akan memutih, dan usia akan terus bertambah. Suka atau tidak, kita semua terseret dalam arus waktu yang perkasa ini. Allah SWT menegaskan keniscayaan ini dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا

"Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur." (QS. Al-Furqan: 62)

Ayat ini mengingatkan bahwa dalam keteraturan yang tampaknya mekanis ini, terdapat pelajaran bagi mereka yang mau berpikir. Implikasi etis dari pemahaman ini sangat mendalam. Sikap terbaik dalam menghadapi Sunatullah bukanlah perlawanan yang sia-sia atau penyesalan yang melumpuhkan, melainkan Rida—kerelaan hati. Rida adalah sikap menerima ketetapan ini dengan jiwa yang lapang, bukan karena kalah, tetapi karena percaya bahwa di balik hukum yang tegas ini ada kebijaksanaan ilahi. Dengan menerima keniscayaan waktu, kita dapat mulai menyelaraskan ritme hidup kita dengan maksud Sang Pencipta, bukan melawannya.

Dengan demikian, penerimaan terhadap waktu sebagai Sunatullah membebaskan kita dari kecemasan akan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, di balik hukum waktu yang tampak kaku dan tak terhindarkan ini, tersembunyi sebuah dimensi kasih sayang yang lembut dan penuh harapan, yang akan kita jelajahi selanjutnya.

3.0 Waktu sebagai Rahmat: Memaknai Setiap Detik sebagai Anugerah dan Kesempatan

Jika Sunatullah adalah wajah waktu yang tegas, maka Rahmat adalah wajahnya yang penuh kasih. Memandang waktu sebagai Rahmat Allah adalah sebuah pergeseran paradigma yang transformatif. Perspektif ini mengubah waktu dari sekadar durasi kuantitatif—sebuah wadah kosong yang harus diisi—menjadi sebuah anugerah kualitatif yang sarat dengan makna, harapan, dan kesempatan ilahi.

Setiap momen kehidupan yang kita alami adalah bukti nyata dari kasih sayang Allah. Fakta bahwa kita masih bisa bernapas di detik ini bukanlah karena kehebatan atau kekuatan kita, melainkan karena Allah masih menyayangi kita dan memberikan kesempatan. Setiap detik baru yang terhampar di hadapan kita adalah sebuah peluang emas untuk bertaubat dari kesalahan masa lalu. Setiap fajar yang menyingsing adalah sebuah lembaran baru, sebuah kesempatan untuk memperbaiki sujud kita, memperdalam hubungan kita dengan-Nya, dan menyempurnakan akhlak kita.

Keberadaan kita di sini, saat ini, adalah manifestasi konkret dari Rahmat Allah. Ini membawa tiga makna fundamental:

  1. Allah belum menutup pintu harapan bagi kita. Selama napas masih berhembus, pintu ampunan dan perbaikan masih terbuka lebar.

  2. Allah masih memberi ruang untuk berubah. Kita tidak terkunci oleh masa lalu; setiap momen baru adalah undangan untuk menjadi versi diri yang lebih baik.

  3. Allah masih mempercayakan hidup ini kepada kita. Setiap hari adalah bukti kepercayaan-Nya bahwa kita masih mampu berbuat kebaikan.

Pemahaman ini secara radikal mengubah cara kita bertanya tentang eksistensi kita. Pertanyaan yang dangkal akan berfokus pada durasi, sementara pertanyaan seorang mukmin akan berfokus pada substansi dan tujuan.

Pertanyaan Umum

Pertanyaan Seorang Mukmin

"Sudah berapa lama aku hidup?"

"Untuk apa waktu yang Allah titipkan ini aku gunakan?"

Konsekuensi logis dari pemahaman ini sangat jelas. Menyia-nyiakan waktu—menghabiskannya dalam kelalaian atau kemaksiatan—pada hakikatnya adalah menyia-nyiakan rahmat Allah yang tak ternilai. Sebaliknya, mengisi setiap detik dengan kebaikan, zikir, dan amal saleh adalah bentuk syukur tertinggi atas rahmat tersebut. Ini adalah cara kita membalas cinta-Nya dengan ketaatan dan pengabdian.

Pada akhirnya, waktu adalah rahmat sebelum menjadi saksi. Kesempatan sebelum penyesalan. Dan anugerah sebelum perhitungan.

4.0 Waktu sebagai Amanat: Menyadari Eksistensi sebagai Tanggung Jawab Suci

Puncak dari pemahaman teologis tentang waktu tercapai ketika kita menyadarinya sebagai sebuah Amanat—sebuah titipan atau tanggung jawab suci dari Allah. Konsep ini menegaskan bahwa di balik setiap nikmat yang kita terima, termasuk nikmat waktu, terdapat Taklif, yaitu beban kewajiban yang harus ditunaikan. Waktu bukanlah properti pribadi kita; ia adalah modal utama yang dipinjamkan oleh Sang Pencipta untuk sebuah tujuan yang agung.

Waktu bukanlah sekadar "uang"; waktu adalah "eksistensi" itu sendiri. Setiap hembusan napas, setiap detak jantung, adalah bagian dari modal eksistensial yang dipercayakan kepada kita. Kita tidak benar-benar memiliki waktu; kita hanya meminjamnya dari Allah untuk menjalankan tugas suci kita sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di muka bumi). Karena ia adalah titipan, maka setiap detiknya mengandung pertanggungjawaban. Waktu bukan sekadar berjalan. Waktu meng-adili secara diam-diam. Implikasi dari pandangan ini sangatlah mendalam dan membentuk kerangka etis bagi kehidupan seorang mukmin:

  • Hidup ini bukan bebas tanpa arah. Ada tujuan yang telah ditetapkan, dan waktu adalah kendaraan untuk mencapainya.

  • Umur bukanlah ruang bersenang-senang tanpa batas. Ia adalah arena untuk beramal dan membuktikan kelayakan kita di hadapan Allah.

  • Setiap detik mengandung pertanggungjawaban kepada Allah. Tidak ada momen yang akan berlalu tanpa dicatat dan, pada akhirnya, dipertanyakan.

Allah SWT secara eksplisit mengingatkan kita tentang hubungan antara waktu saat ini dan pertanggungjawaban di masa depan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hashr: 18)

Ayat ini adalah sebuah perintah yang tegas: waktu hari ini adalah modal untuk hari esok (akhirat). Pemahaman ini menggeser fokus kita secara total. Pertanyaan yang relevan bukanlah, "Seberapa sibuk engkau?" melainkan, "Untuk apa waktumu digunakan?" Pergeseran ini didasarkan pada kesadaran bahwa hidup bukan sekadar berjalan, umur bukan sekadar bertambah, dan kesibukan bukanlah ukuran kebaikan. Yang menentukan nilai dari hidup kita bukanlah aktivitasnya, melainkan apakah amanat waktu itu telah ditunaikan sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Amanat.

Lebih jauh lagi, kesadaran akan amanat ini mengubah dialog internal seorang mukmin. Orang beriman tidak berkata: ‘Aku tidak punya waktu.’ Tetapi bertanya: ‘Apakah aku telah jujur terhadap waktu yang Allah titipkan?’ Pertanyaan ini memindahkan fokus dari manajemen waktu eksternal ke integritas spiritual internal. Kejujuran terhadap waktu berarti mengakui setiap detik sebagai pinjaman suci dan menggunakannya dengan kesadaran penuh bahwa ia akan dilaporkan kembali kepada Pemiliknya.

Oleh karena waktu adalah amanat yang kelak akan diadili, maka menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memiliki strategi praktis dalam menjaganya, terutama di tengah tantangan kehidupan modern yang penuh distraksi.

5.0 Muhasabah sebagai Strategi Eksistensial: Menjaga Amanat di Era Distraksi

Di era digital saat ini, tantangan terbesar dalam menjaga amanat waktu bukanlah ketiadaannya. Waktu jarang benar-benar hilang; ia lebih sering tercuri tanpa disadari. Pencurinya bukanlah pekerjaan berat yang menyita energi, melainkan distraksi halus yang memikat perhatian, seperti scroll tanpa ujung di layar gawai. Kita membuka ponsel dengan niat hanya lima menit, namun tanpa sadar, lima menit itu berubah menjadi satu jam, dan satu jam itu berujung pada kelalaian—waktu salat terlewat, zikir terlupa, dan hati menjadi kosong.

Masalah ini, pada hakikatnya, bukanlah sekadar soal teknologi. Ini adalah sebuah pertanyaan eksistensial yang mendasar: siapa yang mengendalikan hidup kita? Apakah kita hidup berdasarkan nilai-nilai dan prioritas yang kita pilih secara sadar, ataukah kita menyerahkan kendali hidup kita pada algoritma yang dirancang untuk merebut perhatian kita? Tanpa sebuah strategi sadar, kita berisiko menjalani hidup yang diarahkan oleh notifikasi, bukan oleh niat.

Respons strategis Islam terhadap tantangan ini adalah Muhasabah: introspeksi atau audit diri. Muhasabah bukanlah penyesalan pasif atas waktu yang telah berlalu. Ia adalah sebuah tindakan proaktif dan sadar untuk "menghitung kembali hidup kita—apa yang untung, apa yang rugi, dan apa yang harus diperbaiki." Ia adalah mekanisme evaluasi diri untuk memastikan bahwa modal waktu yang kita miliki diinvestasikan dengan bijak. Fungsi Muhasabah sebagai sebuah strategi dapat diuraikan dalam tiga poin utama:

  • Agar hidup tidak berjalan tanpa arah. Muhasabah membantu kita mengevaluasi apakah tindakan kita sejalan dengan tujuan hidup kita.

  • Agar kesalahan tidak diulang. Dengan merefleksikan masa lalu, kita dapat mengidentifikasi pola-pola negatif dan memperbaikinya di masa depan.

  • Agar waktu tidak habis tanpa makna. Ia memaksa kita untuk mengukur nilai dari setiap aktivitas dan memastikan kita tidak menukar hal yang abadi dengan kesenangan sesaat.

Muhasabah memainkan peran ganda sebagai "rem dan kompas" dalam perjalanan hidup. Ia adalah rem yang memaksa kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, agar kita tidak salah arah selamanya. Ia juga adalah kompas yang membantu kita mengkalibrasi ulang arah hidup kita kembali menuju tujuan akhirat. Melakukan Muhasabah bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman dan sebuah bentuk keberanian untuk jujur pada diri sendiri sebelum kelak diadili oleh Allah. Dengan demikian, Muhasabah adalah jembatan vital yang menghubungkan pemahaman filosofis kita tentang waktu dengan tindakan etis dalam kehidupan sehari-hari.

6.0 Kesimpulan: Hidup Bermakna dalam Pinjaman Waktu

Perjalanan kita menelusuri hakikat waktu telah membawa kita pada tiga kesadaran fundamental. Waktu adalah Sunatullah, sebuah hukum alam yang mengajarkan kita tentang kerelaan (Rida) dalam menghadapi keniscayaan. Waktu adalah Rahmat, sebuah anugerah ilahi yang tak henti-hentinya mengalir, yang menuntut kita untuk bersyukur dengan mengisinya melalui amal kebaikan. Dan yang terpenting, waktu adalah Amanat, sebuah tanggung jawab suci yang menuntut pertanggungjawaban atas setiap detik yang kita gunakan.

Ketika ketiga konsep ini disintesiskan, ia mengarah pada satu kesadaran fundamental yang mendefinisikan eksistensi seorang mukmin: hidup ini adalah sebuah pinjaman yang sangat berharga dan sangat terbatas. Sebagai pinjaman, ia menuntut pertanggungjawaban yang teliti. Setiap hari yang diberikan kepada kita bukanlah hak, melainkan sebuah kepercayaan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Dalam konteks inilah, Muhasabah muncul bukan sekadar sebagai anjuran, melainkan sebagai alat esensial untuk bertahan dan bertumbuh secara spiritual. Ia adalah mekanisme sadar untuk memastikan bahwa amanat waktu tidak disia-siakan, rahmat yang terkandung di dalamnya disyukuri dengan benar, dan keniscayaan hukumnya dihadapi dengan persiapan yang matang.

Pada akhirnya, nilai sejati dari eksistensi manusia tidak diukur dari lamanya durasi kehidupan atau tingginya tumpukan pencapaian duniawi. Nilai sejati itu terletak pada kualitas pertanggungjawaban kita atas setiap detik yang telah dititipkan oleh Sang Pencipta. Hidup yang bermakna adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah peminjam waktu, dan setiap momen adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita layak atas kepercayaan-Nya.


Friday, January 02, 2026

Menjaga Lisan di Tengah Zaman yang Bising

Berbicara Sesuai Akal Zaman: Memahami Kallimū an-Nāsa Biqadri ‘Uqūlihim di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kita hidup dalam zaman yang paradoksal:
informasi melimpah, tetapi pemahaman sering kali dangkal.
Suara semakin keras, namun makna semakin kabur.

Di tengah kondisi itu, sebuah kaidah lama dari khazanah Islam terasa sangat relevan kembali:

كَلِّمُوا النَّاسَ بِقَدْرِ عُقُولِهِمْ
Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka.

Ungkapan ini bukan sekadar nasihat etika berbicara, tetapi prinsip peradaban tentang bagaimana ilmu, kebenaran, dan nilai seharusnya disampaikan.

 


Kebenaran Tidak Selalu Ditolak, Kadang Tidak Dipahami

Banyak perdebatan hari ini bukan terjadi karena orang membenci kebenaran, tetapi karena cara menyampaikan kebenaran tidak sesuai dengan kemampuan memahami.

Di media sosial, kita sering menyaksikan:

  • Diskusi berubah menjadi pertengkaran
  • Nasihat dianggap menggurui
  • Ilmu dianggap pamer kecerdasan

Padahal sering kali masalahnya bukan pada isi pesan, melainkan pada cara pesan itu dibungkus.

Dalam konteks inilah makna kallimū an-nāsa biqadri ‘uqūlihim menjadi sangat relevan:

berbicaralah bukan untuk menunjukkan bahwa kita tahu, tetapi agar orang lain mengerti.

 

Hikmah: Menjembatani Ilmu dan Manusia

Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran, tetapi juga hikmah—kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran itu.

Al-Qur’an tidak turun sekaligus, tetapi bertahap. Rasulullah pun berbicara berbeda kepada setiap orang:

  • Kepada orang awam, beliau menggunakan perumpamaan sederhana.
  • Kepada sahabat yang cerdas, beliau membuka diskusi yang lebih dalam.
  • Kepada orang yang sedang terluka, beliau lebih banyak diam dan menenangkan.

Inilah seni komunikasi yang sering kita lupakan di era digital:
setiap orang berada pada “tahap akal” yang berbeda.

Relevansi di Zaman Media Sosial

Hari ini, semua orang bisa bicara, tapi tidak semua orang mau mendengar.
Algoritma mempercepat emosi, bukan perenungan.
Akibatnya, kebenaran sering kalah oleh viralitas.

Dalam konteks ini, prinsip kallimū an-nāsa biqadri ‘uqūlihim mengajarkan kita untuk:

  • Tidak memaksakan kedalaman kepada yang belum siap
  • Tidak merendahkan orang yang belum sampai pada pemahaman kita
  • Tidak mengukur kecerdasan orang hanya dari satu sudut pandang

Kadang, yang dibutuhkan bukan dalil tambahan, tetapi bahasa yang lebih manusiawi.

Antara Ilmu dan Empati

Ilmu tanpa empati bisa berubah menjadi kekerasan simbolik.
Sebaliknya, empati tanpa ilmu bisa kehilangan arah.

Maka keseimbangannya adalah:

Berilmu dengan rendah hati, dan berbicara dengan empati.

Seseorang mungkin belum siap menerima kebenaran hari ini,
tetapi sikap bijak kita hari ini bisa membuka pintu pemahaman esok hari.

Kebenaran yang Membimbing, Bukan Menghakimi

Kallimū an-nāsa biqadri ‘uqūlihim bukan ajakan untuk menurunkan standar kebenaran,
melainkan menaikkan kualitas cara kita menyampaikannya.

Karena tujuan ilmu bukan untuk menang debat,
tetapi untuk menuntun manusia menuju kebaikan dengan kesadaran.

Dan di zaman yang riuh ini, mungkin yang paling kita butuhkan bukan suara yang lebih keras,
melainkan kata-kata yang lebih bijaksana.

 

Wednesday, December 31, 2025

Lebih dari Sekadar Kenyang

4 Pelajaran tentang Makan yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda


 

Tulisan ini berangkat dari materi yang pernah saya sampaikan dalam khutbah Jumat, lalu saya susun kembali dalam bentuk tulisan reflektif agar dapat dibaca lebih luas. Semoga setiap kata yang tertulis menjadi jalan kebaikan dan pengingat bagi kita semua.

Di tengah kehidupan modern yang serba berlimpah, banyak dari kita merasa ada sesuatu yang hilang. Kita punya kulkas penuh makanan, tapi hati kosong; kita punya gawai canggih, tapi tak punya waktu untuk berzikir. Paradoks ini mencerminkan kekosongan spiritual yang muncul ketika kita melupakan makna di balik aktivitas sehari-hari, termasuk salah satu yang paling mendasar: makan.

Artikel ini akan mengupas empat pelajaran mendalam dari sebuah khutbah Jumat yang menawarkan cara pandang baru terhadap aktivitas makan. Ini bukan sekadar tentang nutrisi atau diet, melainkan tentang mengubah rutinitas harian dari sekadar kebutuhan biologis menjadi sebuah praktik spiritual yang mendatangkan keberkahan dan ketenangan jiwa.

1. Makan Adalah Ibadah, Bukan Sekadar Urusan Perut

Pelajaran pertama yang paling fundamental adalah pergeseran cara pandang kita terhadap makanan. Dalam Islam, konsumsi bukanlah sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan bisa bernilai ibadah jika niatnya benar dan caranya halal. Ini mengubah setiap suapan dari rutinitas duniawi menjadi sebuah tindakan yang mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.

Gagasan ini berakar kuat pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, yang menjadi landasan bagi cara seorang Muslim berinteraksi dengan rezeki.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. (QS. Al-Baqarah: 168)

Ketika kita menyadari bahwa setiap suapan adalah amanah dari Allah yang akan dipertanggungjawabkan, aktivitas makan pun naik kelas. Ia menjadi ibadah yang nilainya bergantung pada niat kita—apakah untuk mensyukuri nikmat dan mengumpulkan energi untuk kebaikan, atau sekadar memuaskan nafsu.

2. "Halal" Saja Tidak Cukup, Ada Syarat Kedua yang Sering Dilupakan

Ayat di atas dengan jelas menyebutkan dua syarat: halalan thayyiban (halal lagi baik). Banyak dari kita hanya fokus pada kata "halal" tanpa memahami syarat kedua yang sering dilupakan: "thayyiban".

Jika 'halal' menjawab pertanyaan, 'Apakah ini diizinkan?', maka 'thayyiban' menggali lebih dalam dengan bertanya, 'Apakah ini baik untukku—untuk tubuh, jiwa, dan caraku mengonsumsinya?'

  • Halal adalah tentang status hukum suatu makanan—apakah ia diizinkan oleh syariat atau tidak.
  • Thayyiban adalah tentang kualitas, manfaat, dan keseimbangan. Ia mencakup aspek gizi, kebersihan, dan cara kita mengonsumsinya.

Makanan yang halal sekalipun, jika dikonsumsi secara berlebihan hingga menimbulkan mudarat (kerusakan atau bahaya), maka ia tidak lagi thayyiban. Sebaliknya, makanan yang bergizi tinggi namun didapat dari cara yang haram, maka ia akan menjadi racun bagi hati dan jiwa. Keseimbangan antara halal dan thayyiban adalah bagian dari kesucian hidup dan sebuah perintah agama, bukan sekadar pilihan etis atau gaya hidup sehat.

3. Kekayaan Sejati Bukan di Kulkas Penuh, Tapi di Hati yang Merasa Cukup

Dalam keseharian kita dapat merenungi ataupun menyoroti penyakit gaya hidup modern yang mendorong kita untuk berbelanja bukan karena kebutuhan sejati, tetapi karena ingin menampakkan kemampuan. Di tengah kelimpahan instan ini, makna sering kali hilang, dan kita terdorong untuk mengonsumsi demi memuaskan keinginan, bukan memenuhi kebutuhan.

Penawar untuk penyakit spiritual ini adalah qana'ah—sikap merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Qana'ah adalah kekayaan sejati yang membuat hati tenang. Ini adalah perisai yang melindungi kita dari budaya konsumtif yang mendorong kita makan dan berbelanja bukan karena kebutuhan, melainkan karena didorong oleh keinginan nafsu dan hasrat untuk pamer. Hidup bukan tentang memiliki segalanya, tetapi tentang menyadari bahwa apa yang kita miliki sudah cukup.

4. Teladan Rasulullah ﷺ Mengajarkan "Kenyang" yang Berbeda

Sebagai teladan agung, Rasulullah Muhammad ﷺ menunjukkan kepada kita arti keseimbangan yang sesungguhnya. Meskipun beliau adalah manusia termulia, hidupnya jauh dari kemewahan dan justru dipenuhi kesederhanaan.

Sebuah riwayat yang kuat menggambarkan pola hidup beliau:

“Keluarga Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum dalam dua hari, sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari no. 6454, Muslim no. 2970).

Kesederhanaan ini bukanlah karena ketidakmampuan, melainkan sebuah pilihan sadar. Ini adalah bagian dari tazkiyah—proses pensucian jiwa—melalui pola konsumsi yang seimbang. Teladan beliau adalah cermin langsung bagi zaman kita, di mana—kita sering kali makan bukan karena kebutuhan jasmani, melainkan karena didorong oleh keinginan nafsu semata.

Kesimpulan: Suapan Berikutnya Adalah Pilihan

Empat pelajaran ini mengajak kita untuk menata kembali hubungan kita dengan makanan. Makan adalah ibadah, bukan sekadar urusan perut. Keseimbangan antara yang halal dan thayyiban adalah kunci keberkahan. Kekayaan sejati terletak pada qana'ah, yaitu hati yang merasa cukup. Dan teladan Rasulullah ﷺ mengajarkan kita arti kesederhanaan sebagai jalan pensucian jiwa.

Setiap suapan adalah amanah dan setiap rasa cukup adalah anugerah. Pertanyaannya, kesadaran apa yang akan kita bawa pada suapan kita berikutnya?

Wednesday, July 24, 2024

Update Virtualbox 6 ke 7 di Ubuntu

Sebelumnya saya mengalami error seperti ini, padahal tadi malam saya gunakan baiknya saja, setelah membaca di sana sini dan searching saya menemukann bahwa hal ini karena versi ubuntu saya sudah ketinggalan versinya yakni versi 6. Dan Saya baru ingat sebelum tidur saya melakukan update ubuntu saya dengan perintah 

sudo apt-get update

Dan paginya ketika mau buka virtualbox terlihat gambar seperi diatas, baik ini tahapan updatenya


Tahap awal instal repositori VirtualBox di sistem Ubuntu atau Debian Anda jika belum ada;

echo "deb [arch=amd64] http://download.virtualbox.org/virtualbox/debian $(lsb_release -sc) contrib" | \
sudo tee /etc/apt/sources.list.d/virtualbox.list

Install VirtualBox repository signing key;

sudo apt install gnupg2

wget -qO- https://www.virtualbox.org/download/oracle_vbox_2016.asc | \
sudo gpg --dearmor --yes -o /etc/apt/trusted.gpg.d/virtualbox.gpg

Run system package cache update;

sudo apt update

Instal VirtualBox 7.x (VirtualBox 7.0 saat tulisan ini dibuat tersedia) menggunakan package manager.

sudo apt install virtualbox-7.0

Install VirtualBox Extension Pack for VirtualBox 7

Download VirtualBox 7.x extension pack and install;

wget -P /tmp https://download.virtualbox.org/virtualbox/7.0.2/Oracle_VM_VirtualBox_Extension_Pack-7.0.2.vbox-extpack

sudo vboxmanage extpack install --replace /tmp/Oracle_VM_VirtualBox_Extension_Pack-7.0.2.vbox-extpack

Launch VirtualBox 7.x on Ubuntu/Debian

Anda sekarang dapat menjalankan VirtualBox 7.x;

Contoh keluaran;

7.0.20r163906

Demikian pula, menjalankan manajer VirtualBox dan navigasikan ke  Help > About VirtualBox  untuk memeriksa versinya.

 Dan begitulah mudahnya mengupgrade VirtualBox 6.x ke VirtualBox 7.x di Ubuntu.


Sunday, February 11, 2024

Install Driver Wifi Linux Mint 21.3 di Axioo My Book 14 E


Setelah lama tidak mengulik Linux, tadi malam saya kembali merambah dunia Linux dengan mencoba Linux Mint. Saya memutuskan untuk mengunduh versi terbaru, yaitu Linux Mint 21.3, dan baru sempat menginstalnya pagi ini setelah proses pengunduhan semalam. Namun, setelah instalasi selesai, saya mengalami kendala yang cukup mengganggu. Saat mencoba mengaktifkan koneksi wifi, perangkat tidak mendeteksinya sama sekali. Kondisi ini menjadi masalah serius karena saya tidak memiliki akses internet melalui kabel, sehingga tidak bisa langsung melakukan pembaruan sistem menggunakan perintah "sudo apt-get" atau "update".

Hal ini sebernanya saya buat untuk pengingat dan sebagai catatan saya dan jika ingin teman-teman ingin mencoba silahkan mengikuti langkah-langkahnya.

Berikut langkah-langkah install nya 

  1. Dengan menggunakan laptop/komputer lain Donwload file Realtek 8723DU Wireless dan letakakan file tersebut sementera di Flasdisk kemudian pindahakan ke Folder Download pada laptop Linux mint yang baru kita install
  2. Ektrak file tersebut dengan perintah unzip namafile
  3.  Lanjut dengan perintah 

        cd rtl8723du

        make

        sudo make install

Dan terakhir restart laptop nya, semoga berhasil

Tuesday, October 10, 2023

Nasruddin Hodja


Nasruddin Hodja, atau Nasreddin Hodja, adalah sosok yang sangat terkenal dalam budaya dan cerita rakyat di berbagai masyarakat di dunia. Meskipun keberadaan sejarahnya masih diperdebatkan, banyak masyarakat mengklaimnya sebagai bagian dari etnis mereka. Namun, beberapa sumber menunjukkan bahwa Nasruddin Hodja mungkin lahir di Desa Hortu di Sivrihisar, Provinsi Eskişehir, yang sekarang merupakan bagian dari Turki modern, pada abad ke-13.

Pada masa hidupnya, Nasruddin Hodja dikenal sebagai seorang cendekiawan, cerdik, dan bijaksana. Ia tinggal di berbagai tempat selama hidupnya, dan perjalanan hidupnya mencerminkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam sejarah Turki. Setelah kelahirannya di Desa Hortu, ia kemudian tinggal di Akşehir, sebuah kota di Turki yang kemudian menjadi salah satu tempat terkenal yang dihubungkan dengannya. Selanjutnya, Nasruddin Hodja tinggal di Konya saat Dinasti Seljuk memerintah.

Nasruddin Hodja juga terkenal karena kisah-kisah lucu, cerita-cerita bijak, dan anekdot-anekdot yang sering kali mengandung pesan moral. Kisah-kisah ini menggambarkan Nasruddin sebagai seorang tokoh yang ceroboh, terkadang bodoh, tetapi juga sangat bijaksana dalam mengajarkan pelajaran tentang kebijaksanaan, moralitas, dan kebijakan.

Pada akhir hidupnya, tanggal pasti kematian Nasruddin Hodja masih menjadi misteri. Beberapa sumber mengatakan bahwa ia meninggal pada tahun 1275/6, sementara yang lain menyebutkan tahun 1285/6 Masehi. Meskipun demikian, makam Nasruddin Hodja dipercaya berada di Akşehir, dan tempat ini telah menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang yang ingin menghormatinya.

Selain itu, untuk merayakan warisan dan cerita-cerita Nasruddin Hodja, "Festival Internasional Nasreddin Hodja" diadakan setiap tahunnya di Akşehir pada tanggal 5 hingga 10 Juli. Festival ini merupakan kesempatan bagi orang-orang untuk merayakan kebijaksanaan dan humor Nasruddin Hodja melalui berbagai acara budaya, pertunjukan seni, dan peringatan akan pesan moral yang terkandung dalam ceritanya.

Dengan berbagai klaim masyarakat yang menghubungkan Nasruddin Hodja dengan berbagai etnis dan budaya, serta warisan kisah-kisahnya yang terus hidup, Nasruddin Hodja tetap menjadi salah satu tokoh yang paling dicintai dalam cerita rakyat dan kebijaksanaan lintas budaya di seluruh dunia.

Walaupun banyak yang mengklaim Nasruddin Hodja sebagai bagian dari etnis atau budaya mereka, perlu diingat bahwa karakter Nasruddin Hodja sebenarnya adalah sebuah ikon lintas budaya yang melewati batas etnis, bahasa, dan agama. Keberhasilan Nasruddin Hodja sebagai figur yang dikenal secara global terletak pada karakter universalnya yang bisa diterima oleh banyak orang di seluruh dunia. Ini adalah sisi lain dari kisah Nasruddin Hodja yang menarik untuk dicatat.

Nasruddin Hodja tidak hanya terkenal di Turki, tetapi juga di berbagai negara Timur Tengah, Asia Tengah, Balkan, dan bahkan sebagian besar dunia. Dia adalah contoh yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan dan humor memiliki daya tarik universal, dan pesan moral yang terkandung dalam ceritanya dapat diaplikasikan oleh semua orang, tanpa memandang latar belakang budaya atau agama mereka.

Selain itu, Nasruddin Hodja juga menjadi simbol toleransi dan pemahaman lintas budaya. Kisah-kisahnya sering kali menggambarkan situasi yang melibatkan berbagai budaya, agama, dan bahasa yang berbeda, tetapi dalam akhirnya, pesan moral yang diambil selalu mengutamakan kebijaksanaan, keadilan, dan kerukunan. Ini menjadi sebuah pengingat bahwa dalam keragaman kita, kita dapat menemukan kesamaan yang menghubungkan kita sebagai manusia.

Oleh karena itu, sisi lain dari Nasruddin Hodja adalah bahwa ia mewakili nilai-nilai universal yang penting dalam mempromosikan perdamaian, pemahaman, dan harmoni di dunia yang semakin terhubung secara global. Sebagai tokoh yang menyatukan berbagai budaya dan mengajarkan pelajaran berharga, Nasruddin Hodja akan terus menjadi inspirasi bagi orang-orang dari berbagai latar belakang untuk saling menghormati dan belajar satu sama lain.

Thursday, March 23, 2023

Penggunaan Font Arabic


 

Font Arabic atau font Arab merupakan jenis font yang digunakan untuk menulis bahasa Arab, termasuk dalam penulisan Al-Qur'an. Bahasa Arab sendiri memiliki aksara yang unik dan berbeda dengan aksara dalam bahasa lainnya, sehingga membutuhkan jenis font yang khusus dan sesuai dengan aturan penulisan huruf Arab.

Al-Qur'an sendiri adalah kitab suci dalam agama Islam yang berisi petunjuk dan pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan. Di dalam Al-Qur'an, huruf Arab digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan suci yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, penggunaan font Arabic yang baik dan sesuai aturan menjadi sangat penting dalam penulisan Al-Qur'an.

Penggunaan font Arabic yang tepat dan indah pada Al-Qur'an juga memiliki nilai estetika yang tinggi dan menjadi ciri khas dari keindahan seni kaligrafi Islam. Penggunaan font Arabic pada Al-Qur'an tidak hanya menunjukkan keindahan visual, namun juga memuat makna dan simbol yang mendalam bagi umat Islam.

Dalam perkembangan teknologi dan desain grafis, terdapat banyak jenis font Arabic yang digunakan dalam penulisan Al-Qur'an, mulai dari font tradisional hingga modern. Namun, penting untuk memastikan bahwa penggunaan font tersebut sesuai dengan aturan dan tidak merusak makna atau pesan suci yang terkandung di dalam Al-Qur'an.

Anda dapat menggunakan  dengan mempelajari link dibawah ini.

Cara Tambah font di Ubuntu  

Silahakan donwload disini

Monday, November 14, 2022

Install fonts-sil-scheherazade on Ubuntu


Font Unicode pintar untuk Arabic Scheherazade (Syah Reza dalam ejaan Indonesia), dinamai sesuai dengan tokoh utama kisah Arabian Nights klasik, dirancang dengan gaya yang mirip dengan tipografi tradisional seperti Monotype Naskh, diperluas untuk mencakup repertoar Arab Unicode lengkap. 

Dalam menuliskan tulisan Arab terutama untuk tulisan ayat Quran, ada beberapa fonts yang khusus digunakan untuk menuliskan Arabic dengan sangat indah.Misalnya font Schehehrazade dan font Uthman Taha Naskh yang keduanya sangat indah, bersifat terbuka, dan bahkan boleh dimanfaatkan untuk kebutuhan komersil.

Tujuan dari produk ini adalah untuk menyediakan satu keluarga font berbasis Unicode yang akan berisi inventaris lengkap mesin terbang yang dibutuhkan untuk hampir semua sistem penulisan berbasis bahasa Arab. 

Font ini menggunakan teknologi font mutakhir untuk mendukung masalah tipografi yang kompleks. Font ini menyediakan rendering skrip Arab yang disederhanakan, menggunakan mesin terbang penghubung dasar tetapi tidak termasuk berbagai ligatur tambahan atau alternatif kontekstual (hanya ligatur lam-alef yang diperlukan). Gaya yang disederhanakan ini sering lebih disukai untuk kejelasan, terutama dalam bahasa non-Arab, tetapi mungkin dianggap tidak menarik di komunitas yang lebih tradisional dan melek huruf. 

Satu font dari keluarga jenis huruf ini disertakan dalam rilis ini: - Scheherazade Regular . Rilis ini mendukung hampir semua repertoar karakter Arab Unicode 5.0 (tidak termasuk blok Arabic Presentation Forms, yang tidak direkomendasikan untuk penggunaan normal). Kecerdasan font diimplementasikan menggunakan teknologi OpenType. 

Situs web: http://scripts.sil.org/ArabicFonts

 

Cara cepat instal dari fonts-sil-scheherazade:

	sudo apt-get update 
	sudo apt-get install fonts-sil-scheherazade

 

Tuesday, November 01, 2022

Cara Simple Tambah Font di Ubuntu

Times New Roman, Arial, dan font sejenis lainnya dimiliki oleh Microsoft dan bukan open source. Banyak distribusi Linux tidak menyediakan secara default untuk menghindari masalah lisensi

Inilah sebabnya mengapa Ubuntu dan distribusi Linux lainnya menggunakan font open source "Liberation fonts" untuk menggantikan font Microsoft secara default. Liberation Fonts dibuat oleh Red Hat untuk menggantikan Arial, Arial Narrow, Times New Roman dan Courier New karena lebarnya sama. Saat Anda membuka dokumen yang ditulis dalam Times New Roman, Liberation Fonts yang setara akan digunakan agar dokumen tidak terganggu.

Namun font Liberation tidak identik dengan font Microsoft dan dalam beberapa kasus Anda mungkin perlu menggunakan Arial atau Times New Roman. Skenario yang sangat umum adalah bahwa font Microsoft adalah satu-satunya pilihan di sekolah, universitas, dan organisasi publik dan swasta lainnya. Dimana mereka mengharuskan Anda untuk mengirimkan dokumen dalam salah satu font tersebut.

Hal baiknya adalah Anda dapat menginstal font Microsoft di Ubuntu dan distribusi lainnya dengan mudah. Dengan cara ini, Anda akan dapat meningkatkan kompatibilitas LibreOffice dan memiliki kebebasan untuk memilih perangkat lunak perkantoran open source.

 

Dalam tutorial ini kita akan melakukan instalasi font TTF Microsoft Core di Ubuntu 20.04 Focal Fossa Desktop.

Dalam tutorial ini Anda akan belajar:

  • Cara menginstal font Microsoft
  • Cara memperbarui file cache font
  • Bagaimana cara mengonfirmasi pemasangan font baru

1.Perbarui sistem Ubuntu


Jika sistem Anda sudah terupdate maka Anda dapat melewati langkah-langkah ini, jika tidak, gunakan manajer paket APT dan jalankan perintah pembaruan sistem sekali untuk refres cache repositori dan menginstal versi baru dari paket yang ada.

sudo apt update && sudo apt upgrade

 

 

2. Perintah untuk menginstal Microsoft Fonts di Ubuntu 22.04 | 20,04


Font yang akan kita instal berasal dari Microsoft tetapi itu tidak berarti kita harus menambahkan repositori tambahan. Repo default sistem dapat digunakan untuk mendapatkan paket yang kita perlukan untuk menginstal font Microsoft di Ubuntu 22.04 atau 20.04. Berikut adalah perintah manajer paket APT untuk hal yang sama.

sudo apt install ttf-mscorefonts-installer

Saat Anda menjalankan perintah, segera pengaturan akan meminta Anda untuk menerima "Perjanjian lisensi pengguna akhir untuk perangkat lunak Microsoft" gunakan tombol Tab untuk memilih tombol OK dan kemudian tekan tombol Enter.

3. Perintah cache

Selanjutnya, refress direktori font pada sistem Ubuntu 20.04 untuk membuat file cache informasi font baru. Untuk melakukannya, jalankan perintah di bawah ini dari jendela terminal:

sudo fc-cache -vr

4. Konfirmasikan Microsoft Fonts ada di Linux Anda


Setelah penginstalan selesai, Anda dapat mengonfirmasi/ mengecek apakah font Microsoft ada di sistem Anda atau tidak. Untuk itu klik pada ikon “Show Application” icon dan search for “fonts“.




Tuesday, July 26, 2022

Gua Hira di Jabal Noor

Mekkah, Selasa 26 Juli 2022/ 27 Zulhijah 1443H


 

Jabal an-Noor (Arab: جَبَل ٱلنُّوْر,  atau Jabal an-Nūr,  'Gunung Cahaya' atau 'Bukit Pencerahan') adalah sebuah gunung di dekat Mekah di wilayah Hijaz, Arab Saudi.Gunung ini terdapat gua atau gua Hira' (Arab: غَار حِرَاء, atau Ghar-i-Hira, / 'Gua Hira'), yang memiliki makna luar biasa bagi umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana diketahui oleh nabi Islam Muhammad telah menghabiskan waktu di gua ini untuk khalwat/menyendiri/bermeditasi, dan secara luas diyakini bahwa di sinilah dia menerima wahyu pertamanya, yang terdiri dari lima ayat pertama Surat Al-Alaq dari malaikat Jibra'il. Ini adalah salah satu tempat wisata paling populer di Mekkah. Gunung itu sendiri tingginya hampir 640 m (2.100 kaki); namun satu hingga dua jam diperlukan untuk melakukan pendakian yang berat ke gua. Ada lebih kurang 1.750 anak tangga ke puncak yang, bahkan untuk individu yang bugar, dapat memakan waktu antara setengah jam dan satu setengah jam.

Di sinilah Nabi Muhammad SAW dikatakan menerima wahyu pertamanya dan menerima ayat kelima dari Quran, gunung itu diberi gelar Jabal an-Nūr ("Gunung Cahaya" atau "Gunung Pencerahan"). Tanggal turunnya wahyu pertama dikatakan pada malam hari pada tanggal 10 Agustus 610 M. Atau, Senin tanggal 21 Ramadhan, menjadikan Muhammad 40 tahun lunar, 6 bulan dan 12 hari, yaitu 39 tahun matahari, 3 bulan dan 22 tahun. hari.

Dalam pendapat yang lain surat al-Alaq ayat 1-5 turun pada malam Lailatul Qadar. Suatu malam yang oleh Al-Quran disebut "lebih baik dari seribu bulan." Pendapat mengenai turunnya pewahyuan, yang terjadi di malam Lailatul Qadar, didasarkan pada penjelasan Al-Qur`an di surat Al-Qadr ayat 1, surat Ad-Dukhan ayat 3-4 dan surat Al-Baqarah ayat 185. Meskipun masih ada perbedaan pendapat, banyak ulama berpandangan bahwa peristiwa turunnya Al-Qur`an turun (Nuzulul Quran) itu terjadi saat Lailatul Qadar yang datang pada malam 17 Ramadhan. Taufik Adnan Amal, dalam buku "Rekonstruksi Sejarah Al-Quran" (hlm. 71) menulis, mayoritas mufassir menyimpulkan, Nuzulul Quran terjadi pada 17 Ramadhan, karena merujuk penjelasan Al-Qur`an di surat Al-Anfal ayat 41: 


۞ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


Terjemah :

"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." 

 

Para mufassir menginterpretasikan bahwa hari "furqaan" atau "hari bertemunya dua pasukan" di ayat itu merujuk pada peristiwa pertempuran perang Badar yang berlangsung pada 17 Ramadan. 

Dalam "Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan", disebutkan pada suatu malam bulan ramadan tahun 610 Masehi bertempat di Gua Hira, beliau didatangi malaikat dan berkata, "Bacalah!". Beliau kemudian menjawab, "Aku tidak bisa membaca". Lalu, malaikat tersebut menariknya dan memeluk erat-erat hingga membuatnya merasa kepayahan. Kejadian ini terulang sebanyak tiga kali dan setelah melepaskan badannya, kemudian sang malaikat yang diketahui sebagai Jibril tersebut mengucapkan surah al-Alaq ayat 1 hingga 5. 


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢

Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣

Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia,

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤

yang mengajar (manusia) dengan pena.

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Peran Seorang Khadijah

Setelah itu, Rasulullah pulang ke rumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Usai meminta diselimuti oleh sang istri, kemudian beliau menceritakan yang telah terjadi sebelumnya di Gua Hira. 

Dengan penuh kasih, Khadijah mencoba menenangkan Nabi seraya berucap, “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan engkau. Sesungguhnya engkau selalu menyambung tali persaudaraan, selalu menanggung orang yang kesusahan, selalu mengupayakan apa yang diperlukan, selalu menghormati tamu dan membantu derita orang yang membela kebenaran.” Khadijah pun berharap Nabi Saw. menjadi seorang utusan penghujung zaman yang akan memandu umat manusia (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah).

Khadijah tidak tinggal diam melihat kegelisahan yang merundung Baginda Nabi Saw. Tak berselang lama, beliau mengajak Nabi menemui Waraqah bin Naufal, seorang pemeluk Nasrani yang alim kitab Injil. Kedatangan Khadijah menemui anak pamannya itu untuk lebih memastikan kejadian-kejadian yang dialami oleh Nabi adalah tanda-tanda kenabian dan kerasulan. Khadijah juga berharap, perjumpaannya itu bisa melepas kegundahan yang melanda hati Nabi Saw.

Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini.” Waraqah segera bertanya kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku, apakah yang kau lihat?” Lalu Nabi menceritakan apa yang beliau lihat dan alami di Gua Hira. Setelah mendengar semuanya, Waraqah berkata lagi kepada Nabi, “Itulah Namus (Jibril as) yang pernah diutus Allah kepada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.”

Mendengar itu, Nabi Saw. pun bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya, karena setiap utusan yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti akan dimusuhi. Kelak, engkau akan mengalami masa-masa seperti itu. Dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenaga.” Tidak lama dari perjumpaan itu, Waraqah bin Naufal tutup usia.

Betapa luar biasanya hikmah Allah SWT memilihkan Khadijah radhiallahu ‘anha untuk Nabi Muhammad SAW Istri yang hidup bersamanya saat wahyu pertama tiba. Istri yang mampu memberikan ketenangan saat seorang suami yang berjiwa tegar pun merasa kebingungan. Dia tetap tenang dan memberikan ketenangan.

Kemudian, ia yang pertama membenarkan risalah kerasulannya saat orang-orang mendustakannya. Ia tetap bersama suaminya di tengah tekanan kaumnya. Ia menolong dan membelanya.

Gua Hira

Salah satu ciri fisik yang membedakan Jabal Noor dari gunung dan bukit lainnya adalah puncaknya yang tidak biasa, yang membuatnya tampak seolah-olah dua gunung berada di atas satu sama lain. Puncak gunung ini di gurun pegunungan adalah salah satu tempat yang paling sepi (apalagi dimasa lalu, zaman Nabi SAW). Terdapat gua di dalamnya, yang menghadap ke arah Ka'bah, bahkan lebih terisolasi. Saat berdiri di halaman saat itu, orang hanya bisa melihat ke bebatuan di sekitarnya. Saat di posisi gua ini, orang dapat melihat bebatuan di sekitarnya serta bangunan yang berada ratusan meter di bawah dan ratusan meter hingga berkilo-kilometer jauhnya. Gua Hira adalah keduanya tanpa air atau tumbuh-tumbuhan selain beberapa duri, cukup curam.

Gunung ini terdiri dari batuan beku intrusif, didominasi oleh tonalit hornblende berbutir kasar berumur Prakambrium, dengan granodiorit subordinat.

Dengan berjalan kaki 1750 langkah untuk mencapainya, panjangnya sekitar 3,7 m (12 kaki) dan lebar 1,60 m (5 kaki 3 inci). Ia berada di ketinggian 270 m (890 kaki).Selama musim haji, diperkirakan lima ribu pengunjung naik ke sana setiap hari untuk melihat tempat di mana Nabi Muhammad SAW diyakini telah menerima wahyu pertama Al-Qur'an.Kebanyakan Muslim tidak menganggap mengunjungi gua sebagai bagian integral dari haji. 

Dalam sejarah gua Hira memainkan peran penting dalam As-Srah an-Nabawiyyah (biografi kenabian), itu tidak dianggap suci seperti situs lain di Mekah, seperti Masjid Al-Haram.