Dalam diskursus manajemen modern, profesionalisme sering kali direduksi menjadi sekadar kepatuhan terhadap kode etik administratif dan pencapaian performa kuantitatif. Namun, melalui kacamata Buya Hamka dalam Lembaga Budi, kita menemukan bahwa fondasi keberlanjutan seorang profesional terletak pada "Budi". Budi bukanlah sekadar rasio atau kecerdasan intelektual, melainkan "akal yang sadar"—sebuah integrasi antara intelegensia dan tanggung jawab moral yang mendalam. Tanpa Budi, seorang profesional berisiko terjebak dalam "akal-akalan" atau rasionalisasi pragmatis yang merusak integritas. Penyakit karakter, terutama Tabazul, bukan sekadar cacat personal, melainkan ancaman sistemik yang mampu meruntuhkan ekosistem organisasi dan bangsa.
1. Fondasi Filosofis: Konsep "Budi" dan Akar Penyakit Tabazul
Buya Hamka menekankan bahwa Budi adalah kemudi bagi akal manusia. Dalam konteks profesional, perbedaan antara akal murni dan Budi sangatlah krusial. Akal murni sering kali digunakan untuk melakukan justifikasi atas tindakan koruptif melalui Rational Choice Theory—di mana kecurangan dianggap logis demi keuntungan maksimal. Sebaliknya, Budi sebagai "akal yang sadar" memberikan lapisan akuntabilitas transenden yang mencegah profesional menyimpang dari koridor kebenaran.
Penyakit utama yang mengancam kedaulatan batin ini adalah Tabazul. Merujuk pada pemikiran Ibnu Arabi yang dikutip Hamka, Tabazul didefinisikan sebagai kondisi ketiadaan harga diri yang berujung pada hilangnya Muru'ah (martabat). Hal ini ditandai dengan kecenderungan individu untuk meleburkan diri ke dalam lingkungan bermoral rendah demi penerimaan kelompok. Secara strategis, Tabazul melumpuhkan batin karena individu kehilangan standar etika pribadinya; ia tidak lagi beroperasi berdasarkan prinsip, melainkan berdasarkan tekanan sosial. Inilah penghalang utama bagi pencapaian standar profesionalisme tinggi karena integritas menuntut keberanian untuk tegak secara mandiri di atas prinsip moral, meskipun arus mayoritas bergerak ke arah yang salah.
2. Tabazul vs. Self-Esteem Modern: Perspektif Harga Diri dalam Pekerjaan
Dalam psikologi organisasi modern, self-esteem diakui sebagai pilar produktivitas. Namun, konsep harga diri dalam perspektif Budi melampaui sekadar kepercayaan diri; ia adalah benteng pertahanan moral. Di lingkungan kerja kontemporer, gejala Tabazul termanifestasi dalam konformitas buta terhadap budaya organisasi yang toksik demi pengakuan. Kehilangan harga diri ini mengakibatkan hilangnya "Barokah"—sebuah nilai manfaat yang melampaui profitabilitas material. Secara manajerial, hilangnya Barokah identik dengan devaluasi merek (brand devaluation) dan hancurnya modal sosial (social capital) akibat hilangnya kepercayaan publik.
Perbedaan fundamental antara profesional yang berintegritas dengan mereka yang terjangkit Tabazul dapat dipetakan sebagai berikut:
Aspek | Profesional dengan Harga Diri Kuat | Profesional Terjangkit Tabazul |
Interaksi Sosial | Selektif; membangun jejaring yang meningkatkan standar moral. | Melebur tanpa filter ke lingkungan bermoral rendah demi inklusi. |
Pengambilan Keputusan | Berlandaskan objektivitas, keadilan, dan prinsip Budi. | Berdasarkan tekanan kelompok (groupthink) atau kenyamanan sosial. |
Keteguhan Prinsip | Memiliki kedaulatan batin; berani berkata tidak pada malpraktik. | Mudah goyah; mengorbankan nilai demi kepentingan sesaat. |
Sumber Otoritas | Internal (Hati nurani dan Akal yang sadar). | Eksternal (Pengakuan kelompok dan standar mayoritas). |
3. Erosi Profesionalisme: Studi Kasus Penyakit Budi di Berbagai Sektor
Karakter adalah "sendi" atau fondasi eksistensi sebuah profesi. Tanpa sendi ini, profesi akan runtuh menjadi praktik kepalsuan yang merusak tatanan sosial. Penyakit budi menciptakan apa yang Hamka sebut sebagai "palsu": uang palsu, barang palsu, kata-kata palsu, dan puncaknya adalah "orang palsu".
- Sektor Hukum: Munculnya fenomena Pokrol Bambu. Layaknya sebuah kentongan bambu yang nyaring bunyinya namun kosong di dalamnya, profesional hukum jenis ini hanya mengandalkan retorika kosong dan debat kusir. Fokus mereka bukan lagi keadilan, melainkan "menang-kalah" secara teknis tanpa substansi kebenaran, menjadikan hukum sekadar instrumen kekuasaan.
- Sektor Medis: Erosi terjadi ketika "Logika Pengabdian" (kewajiban menolong sesama) dikalahkan oleh logika komersial murni. Profesional yang terjangkit Tabazul memperlakukan pasien sekadar sebagai "unit pendapatan" (revenue units). Mereka mengabaikan tugas fundamental dokter untuk memberikan "gembira" (harapan dan sukacita) sebagai bagian integral dari proses penyembuhan.
- Sektor Pendidikan: Penyakit Takabur (kesombongan intelektual) dan stagnasi merusak kualitas pengajaran. Guru yang merasa ilmunya sudah cukup tinggi akan berhenti belajar, sehingga mereka hanya mentransfer data mati tanpa mampu membentuk karakter murid.
- Sektor Perniagaan: Transformasi pedagang menjadi spekulan melalui "kata-kata palsu" (promosi hiperbolis yang menipu). Hyper-promotion ini merusak ekosistem ekonomi karena menghancurkan kepercayaan yang menjadi fondasi pasar.
4. Restorasi Karakter: Strategi Mengatasi Tabazul dalam Dunia Kerja
Langkah pertama menuju pemulihan adalah Muhasabah (introspeksi kritis). Untuk mendeteksi cacat tersembunyi yang sering kali tertutup oleh bias pribadi, Hamka menawarkan strategi "Empat Jalan Mengenali Kekurangan Diri":
- Bimbingan Mentor (Guru): Mencari ahli akhlak yang mampu mendiagnosis kelemahan rohani secara objektif, layaknya dokter mendiagnosis penyakit jasmani.
- Sahabat yang Jujur: Membangun ekosistem pendukung yang berani memberikan teguran keras atas nama integritas, bukan sahabat yang hanya memaklumi kesalahan.
- Kritik Eksternal (Analisis Musuh): Menggunakan kebencian atau kritik dari musuh sebagai Negative Feedback Loop Analysis. Musuh biasanya lebih cepat menemukan celah kelemahan kita dibandingkan kawan. Profesional yang bijak menggunakan cermin negatif ini untuk memperbaiki diri tanpa dendam.
- Belajar dari Kegagalan Kolektif: Melakukan studi kasus terhadap keruntuhan moral pihak lain agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
Penerapan strategi ini bertujuan untuk membangkitkan Himmah (cita-cita dan target tinggi). Profesional sejati harus menghindari penyakit Shighirul Himmah—sikap "mengalir saja" tanpa arah yang jelas. Himmah memberikan kemudi bagi karier, sehingga seorang individu tidak hanya reaktif terhadap keadaan, tetapi proaktif dalam menegakkan integritas.
5. Kesimpulan: Integritas Karakter sebagai Sendi Eksistensi Bangsa
Akhlak profesional bukan sekadar urusan moralitas personal, melainkan prasyarat bagi ketahanan nasional. Sebagaimana kearifan yang dipegang teguh oleh Buya Hamka: "Tegak rumah karena sendi, runtuh budi runtuhlah bangsa." Integritas karakter adalah investasi strategis untuk keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Profesionalisme sejati menuntut keseimbangan antara dua sikap mental: Syukur atas pencapaian yang diraih dengan cara yang benar, dan Sabar dalam mempertahankan prinsip etis saat menghadapi guncangan. Menghindari Tabazul berarti menjaga kedaulatan batin agar tidak terseret oleh arus dekadensi moral.
Dalam mengarungi samudra profesi, kita harus menyadari batasan diri dan kekuasaan Tuhan. Sebagaimana pesan reflektif Hamka:
"Betapapun kita memegang kemudi bahtera menuju pelabuhan yang dicita-citakan, namun yang menentukan arah angin ialah Dia. Jagalah sabar dan syukur sebagai kemudi hidup dalam kesadaran akan keterbatasan manusia dan kekuasaan Tuhan."