"Kebanyakan orang menghabiskan hidup untuk mencari orang yang tepat untuk dicintai, tetapi sedikit yang bertanya apakah dirinya sudah mampu mencintai dengan benar." — Erich Fromm
Di era media sosial, aplikasi kencan, dan budaya yang sering mengukur seseorang dari penampilan, pekerjaan, atau status sosial, banyak orang percaya bahwa kebahagiaan akan datang jika berhasil menemukan pasangan yang "sempurna". Kita sibuk mencari orang yang tepat, tetapi lupa mempersiapkan diri menjadi orang yang tepat.
Lebih dari setengah abad yang lalu, seorang filsuf dan psikolog sosial bernama Erich Fromm mengajukan pertanyaan yang mengguncang cara berpikir manusia tentang cinta:
"Apakah persoalan cinta adalah menemukan orang yang tepat, atau justru belajar bagaimana mencintai?"
Pertanyaan sederhana ini ternyata mengubah seluruh paradigma tentang cinta.
Siapakah Erich Fromm?
Erich Fromm (1900–1980) adalah seorang filsuf, psikolog sosial, dan psikoanalis berkebangsaan Jerman-Amerika. Ia dikenal sebagai salah satu pemikir humanis paling berpengaruh pada abad ke-20.
Lahir di Frankfurt, Jerman, Fromm menyaksikan secara langsung dampak Perang Dunia I, bangkitnya Nazisme, dan perubahan sosial yang begitu cepat. Pengalaman tersebut membuatnya bertanya mengapa manusia sering kehilangan makna hidup, kebebasan, bahkan kemampuan untuk mencintai.
Sebagai anggota Frankfurt School, ia memadukan pemikiran Sigmund Freud, Karl Marx, filsafat eksistensial, dan nilai-nilai humanisme. Hasil pemikirannya melahirkan sejumlah karya besar, salah satunya The Art of Loving (1956), sebuah buku yang hingga kini masih menjadi rujukan dalam memahami cinta secara lebih dewasa.
Cinta Bukan Soal Menemukan, tetapi Menjadi
Menurut Fromm, kesalahan terbesar manusia modern adalah menganggap bahwa cinta bergantung pada objeknya.
Kita sering berkata:
"Kalau nanti aku menemukan pasangan yang baik, aku pasti bisa bahagia."
Padahal, menurut Fromm, persoalannya bukan berada pada pasangan, melainkan pada kemampuan diri sendiri untuk mencintai.
Banyak orang menghabiskan waktu mempercantik penampilan, meningkatkan karier, memperluas relasi, bahkan mencari pasangan dengan berbagai kriteria. Namun sangat sedikit yang melatih kesabaran, belajar memahami orang lain, mengendalikan ego, atau membangun komunikasi yang sehat.
Karena itu, Fromm menyimpulkan bahwa masalah utama bukanlah kurangnya orang yang layak dicintai, melainkan kurangnya manusia yang mampu mencintai.
Mengapa Cinta Disebut Sebagai Seni?
Judul buku Fromm sangat menarik: The Art of Loving atau Seni Mencintai.
Mengapa seni?
Karena menurutnya, seni tidak pernah lahir secara instan.
Tidak ada seorang pianis yang mahir tanpa latihan bertahun-tahun.
Tidak ada pelukis hebat tanpa disiplin.
Tidak ada dokter yang ahli tanpa belajar.
Lalu mengapa banyak orang mengira bahwa setelah menikah, mereka otomatis menjadi ahli dalam mencintai?
Bagi Fromm, mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari.
Cinta bukan hanya perasaan.
Perasaan bisa datang dan pergi.
Namun kemampuan mencintai adalah karakter yang dibangun melalui latihan panjang.
Empat Pilar Cinta yang Dewasa
Fromm menjelaskan bahwa cinta yang matang berdiri di atas empat fondasi utama: Knowledge, Respect, Care, dan Responsibility.
Keempatnya saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh.
1. Knowledge (Pengetahuan)
Mengenal seseorang tidak cukup hanya mengetahui nama, pekerjaan, atau hobinya.
Pengetahuan dalam cinta berarti memahami dunia batin seseorang.
Memahami apa yang membuatnya bahagia.
Mengetahui luka yang pernah ia alami.
Mengerti impian, kecemasan, dan harapannya.
Semakin seseorang dikenal secara mendalam, semakin mudah ia dicintai dengan benar.
Dalam Islam, konsep ini sangat dekat dengan makna ta'aruf, yaitu proses saling mengenal sebagai jalan menuju hubungan yang lebih bermakna.
2. Respect (Menghormati)
Menghormati berarti menerima bahwa pasangan adalah manusia yang utuh, bukan milik yang dapat dikendalikan.
Banyak hubungan gagal bukan karena kurang cinta, melainkan karena terlalu banyak keinginan untuk mengubah pasangan menjadi seperti diri sendiri.
Cinta yang dewasa berkata,
"Aku menghargai dirimu sebagaimana Allah menciptakanmu."
Sedangkan cinta yang belum matang berkata,
"Aku akan mencintaimu jika kamu berubah sesuai keinginanku."
Perbedaan keduanya sangat mendasar.
3. Care (Perhatian)
Perhatian bukan hanya memberi hadiah atau mengucapkan kata-kata romantis.
Perhatian adalah kesediaan hadir.
Mendengarkan ketika pasangan berbicara.
Menenangkan ketika ia sedang gelisah.
Memberikan waktu di tengah kesibukan.
Fromm pernah memberikan ilustrasi sederhana.
Jika seseorang berkata bahwa ia mencintai bunga tetapi tidak pernah menyiramnya, maka sebenarnya ia tidak mencintai bunga tersebut.
Begitu pula dalam hubungan manusia.
Cinta selalu terlihat melalui tindakan.
4. Responsibility (Tanggung Jawab)
Banyak orang memahami tanggung jawab sebagai beban.
Padahal menurut Fromm, tanggung jawab adalah kemampuan untuk merespons kebutuhan orang yang kita cintai dengan kesadaran, bukan keterpaksaan.
Suami yang bekerja untuk keluarganya bukan semata-mata karena kewajiban hukum, melainkan karena cinta.
Istri yang menjaga keharmonisan rumah tangga juga bukan sekadar menjalankan peran sosial, tetapi sebagai bentuk kasih sayang.
Dalam cinta yang dewasa, tanggung jawab adalah ekspresi cinta yang paling nyata.
Menguasai Seni Mencintai
Jika cinta adalah seni, bagaimana cara mempelajarinya?
Fromm menyebut empat syarat utama.
Pengetahuan
Belajar memahami manusia.
Belajar psikologi.
Belajar agama.
Belajar komunikasi.
Semakin luas pemahaman seseorang tentang manusia, semakin matang pula cara ia mencintai.
Latihan
Tidak ada cinta yang tumbuh hanya melalui teori.
Mendengar dengan penuh perhatian.
Mengendalikan emosi.
Belajar meminta maaf.
Belajar memaafkan.
Semua itu adalah latihan mencintai.
Disiplin
Hubungan tidak akan bertahan hanya dengan rasa cinta.
Ia membutuhkan disiplin.
Disiplin menjaga komunikasi.
Disiplin menepati janji.
Disiplin menjaga kepercayaan.
Disiplin mengendalikan ego.
Kesabaran
Hubungan yang sehat membutuhkan waktu.
Tidak ada pohon yang langsung berbuah sehari setelah ditanam.
Begitu pula cinta.
Ia tumbuh perlahan melalui pengalaman bersama.
Relevansi dengan Kehidupan Pernikahan
Dalam kehidupan rumah tangga, banyak pasangan datang dengan harapan yang tinggi, tetapi minim persiapan untuk menjadi pribadi yang matang.
Mereka berharap pasangan selalu memahami.
Namun mereka sendiri belum belajar memahami.
Mereka ingin dihargai.
Namun belum terbiasa menghargai.
Mereka ingin dicintai.
Namun belum belajar mencintai.
Di sinilah relevansi pemikiran Fromm.
Pernikahan yang bahagia bukan dibangun oleh dua manusia yang sempurna, melainkan oleh dua manusia yang terus belajar menjadi lebih baik setiap hari.
Perspektif Islam: Cinta sebagai Ibadah
Menariknya, pemikiran Fromm memiliki banyak titik temu dengan ajaran Islam.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Ketiga konsep ini tidak hanya berbicara tentang perasaan, tetapi juga tindakan.
Sakinah mengajarkan ketenangan.
Mawaddah mengajarkan cinta yang aktif.
Rahmah mengajarkan kasih sayang yang diwujudkan dalam pengorbanan.
Jika dibandingkan dengan pemikiran Fromm, maka:
- Knowledge mengajarkan pentingnya ta'aruf dan saling memahami.
- Respect sejalan dengan prinsip saling memuliakan (mu'asyarah bil ma'ruf).
- Care tampak dalam sikap saling melayani dan menjaga pasangan.
- Responsibility tercermin dalam pemenuhan hak dan kewajiban sebagai bentuk amanah.
Perbedaannya terletak pada fondasi spiritual. Fromm melihat cinta terutama sebagai kemampuan manusia yang perlu dilatih, sedangkan Islam memandang cinta sebagai anugerah yang harus dipelihara dengan ilmu, akhlak, dan ketakwaan. Dengan demikian, mencintai bukan hanya seni kehidupan, tetapi juga bagian dari ibadah kepada Allah.
Refleksi: Pertanyaan yang Perlu Kita Ajukan
Sebelum bertanya:
"Siapa yang akan mencintaiku?"
Mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu:
- Sudahkah aku menjadi pribadi yang layak dipercaya?
- Sudahkah aku belajar mendengarkan tanpa menghakimi?
- Sudahkah aku mampu menghormati perbedaan?
- Sudahkah aku bertanggung jawab terhadap orang yang kucintai?
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar mencari pasangan yang ideal.
Penutup
Erich Fromm mengingatkan kita bahwa cinta bukanlah keberuntungan karena menemukan seseorang yang sempurna. Cinta adalah proses pendewasaan diri. Semakin dewasa seseorang, semakin sedikit ia menuntut untuk dicintai dan semakin besar kemampuannya untuk mencintai.
Dalam perspektif Islam, pendewasaan itu mencapai puncaknya ketika cinta tidak lagi berpusat pada kepentingan diri, tetapi menjadi jalan untuk menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan pengabdian kepada Allah. Karena itu, rumah tangga yang kokoh bukan dibangun oleh dua hati yang selalu berbunga-bunga, melainkan oleh dua jiwa yang terus belajar mencintai dengan ilmu, akhlak, kesabaran, dan tanggung jawab.
"Cinta yang sejati bukan dimulai ketika kita menemukan orang yang sempurna, tetapi ketika kita terus menyempurnakan cara kita mencintai orang yang Allah titipkan kepada kita."