Kisah Nabi Ibrahim AS memiliki banyak pesan nilai moral dan kehidupan. Nabi Ibrahim AS patut untuk dijadikan panutan dalam kehidupan kita. Dengan proses akal yang murni maka beliau dapat membuat pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya dan berusaha untuk mencari jawaban-jawaban atas dasar akal yang murni, tanpa di selimuti oleh hawa nafsu dan kepetingan.
Nabi Ibrahim as selalu bertanya yang menyelimuti isi pemikirannya. ‘Siapa sebenarnya Tuhan ?, Apakah Benar bulan itu tuhan, karena di malam hari sinarnya menguasai semuanya, atau bintang, atau matahari, namun apalah daya ternyata benda tersebut menghilang, berarti ini semua bukan Tuhanku karena memiliki keterbatasan masing-masing.
Proses Nabi Ibrahim dalam Mencari Tuhan terdapat dalam ayat suci Al-Quran dalam Surat Al-An’am Allah SWT berfirman:
Nabi Ibrahim as selalu bertanya yang menyelimuti isi pemikirannya. ‘Siapa sebenarnya Tuhan ?, Apakah Benar bulan itu tuhan, karena di malam hari sinarnya menguasai semuanya, atau bintang, atau matahari, namun apalah daya ternyata benda tersebut menghilang, berarti ini semua bukan Tuhanku karena memiliki keterbatasan masing-masing.
Proses Nabi Ibrahim dalam Mencari Tuhan terdapat dalam ayat suci Al-Quran dalam Surat Al-An’am Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ - ٧٦
Ketika
malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu)
dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia
berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”(QS al-an'am, 6:76 )
فَلَمَّا
رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ
لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ
الضَّاۤلِّيْنَ - ٧٧
Lalu
ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi
ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak
memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang
sesat.” (QS al-an'am, 6:77 )
فَلَمَّا
رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ
اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ - ٧٨
Kemudian
ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini
lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai
kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS al-an'am, 6:78 )
Beberapa hal yang kita dapat ambil pelajaran dari ayat diatas diantaranya:
- Dengan pengamatan dan renunganan yang mendalam membuat timbulnya pertanyaan-pertanyaan dalam diri Nabi Ibrahim as, yang menghasilkan penemuan akidah Ketuhanan Yang Maha Esa. Keterlibatan nafsu dalam syahwat mengaburkan fitrah manusia dan menjadikan manusia tersesat dari akidah yang benar.
- Ayat diatas menggambarkan proses pemikiran nabi Ibrahim as, hingga beliau menemukan Allah swt, Yang Maha Esa, Tuhan seru sekalian alam. Atau bahwa keterangan ayat itu merupakan cara beliau secara rasional atau dengan akal yang sehat dan murni yang beliau tempuh untuk membuktikan kesesatan kaumny
Wallahu a’lam bish-shawabi ( والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ ) “dan Allah lebih tahu yang benar/yang sebenarnya”.

No comments:
Post a Comment