Ikhwan Saputera

Setiap Waktu adalah Belajar, Setiap Tempat adalah Sekolah, Setiap Orang adalah Guru

Tuesday, November 24, 2020

Burung Hantu & Belalang

    Burung hantu selalu tidur di siang hari. Kemudian setelah matahari terbenam, ketika cahaya kemerahan memudar dari langit dan bayang-bayang perlahan-lahan naik melewati belantara hutan, burung hantu muncul dengan perlahan dan mengendap-endap dari pohon tua berlubang. Sambil berbunyi "hoo-hoo-hoo-oo-oo" aneh kedengaran suaranya bergema di belantara hutan yang tenang, dan dia mulai berburu serangga dan kumbang, katak dan tikus yang sangat disukainya untuk dimakan.

    Sekarang ada Burung Hantu sudah mulai tua, dan tentu dia menjadi sangat marah dan sulit untuk disenangkan seiring bertambahnya usia, terutama jika ada sesuatu yang mengganggu tidurnya sehari-hari. Suatu sore musim panas yang hangat saat burung hantu sedang  tertidur di sarangnya di pohon ulin, Belalang di bawah pohon dekat dengan sarang burung hantu memulai menyanyi dengan sangat berisik dan keras tapi dengan suara yang sangat serak. Kepala burung hantu tua itu keluar dari lubang di pohon, sambil berkata;

"Pergi dari sini, Tuan," katanya pada Belalang. "Apa kau tidak sadar, nyanyian mu sungguh sangat menggangu tidurku ? Setidaknya kau harus menghormati usiaku yang sudah tua dan biarkan aku tidur dengan tenang !"

    Tetapi Belalang menjawab dengan lugas bahwa dia berhak atas tempatnya di bawah sinar matahari seperti yang dimiliki Burung Hantu atas tempatnya di pohon tua tersebut. Lalu dia menyayikan dengan nada yang lebih keras dan lebih serak.

    Burung hantu tua yang bijak tahu betul bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan Belalang, atau dengan siapa pun dalam hal seperti ini. Selain itu burung hantu berpikir, matanya tidak cukup tajam di siang hari untuk memungkinkannya menghukum Belalang sebagaimana layaknya. Jadi dia mengesampingkan semua kata-kata keras dan berbicara dengan sangat ramah kepadanya.

"Baiklah, Tuan Belalang," katanya, "jika saya harus tetap terjaga, saya ingin sekali  untuk menikmati nyanyian Anda. Sekarang saya berubah pikiran, saya memiliki minuman yang luar biasa nikmatnya dan makan yang lezat untuk di nikmati di atas sini, alangkah senangnya jika kita makan dan minum diatas sini sambil mendengarkan Tuang Belalang menyanyi dengan suara yang lembut dan indah. Silakan datang dan cicipi minuman lezat ini bersama saya. Saya tahu itu akan membuat Anda bernyanyi. "

    Belalang yang bodoh terpesona oleh kata-kata sanjungan Burung Hantu. Dia melompat ke atas sarang Burung Hantu, tetapi begitu dia cukup dekat dengan Burung Hantu tua itu dapat melihatnya dengan jelas, dan secepat kilat Burung Hantu menerkam Belalang.



Sanjungan bukanlah bukti kekaguman sejati. 

Jangan biarkan sanjungan membuat Anda lengah terhadap musuh.


No comments:

Post a Comment