4 Pelajaran tentang Makan yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda
Tulisan ini berangkat dari materi yang pernah saya sampaikan dalam khutbah Jumat, lalu saya susun kembali dalam bentuk tulisan reflektif agar dapat dibaca lebih luas. Semoga setiap kata yang tertulis menjadi jalan kebaikan dan pengingat bagi kita semua.
Di tengah kehidupan modern yang serba berlimpah, banyak dari kita merasa ada sesuatu yang hilang. Kita punya kulkas penuh makanan, tapi hati kosong; kita punya gawai canggih, tapi tak punya waktu untuk berzikir. Paradoks ini mencerminkan kekosongan spiritual yang muncul ketika kita melupakan makna di balik aktivitas sehari-hari, termasuk salah satu yang paling mendasar: makan.
Artikel ini akan mengupas empat pelajaran mendalam dari sebuah khutbah Jumat yang menawarkan cara pandang baru terhadap aktivitas makan. Ini bukan sekadar tentang nutrisi atau diet, melainkan tentang mengubah rutinitas harian dari sekadar kebutuhan biologis menjadi sebuah praktik spiritual yang mendatangkan keberkahan dan ketenangan jiwa.
1. Makan Adalah Ibadah, Bukan Sekadar Urusan Perut
Pelajaran pertama yang paling fundamental adalah pergeseran cara pandang kita terhadap makanan. Dalam Islam, konsumsi bukanlah sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan bisa bernilai ibadah jika niatnya benar dan caranya halal. Ini mengubah setiap suapan dari rutinitas duniawi menjadi sebuah tindakan yang mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.
Gagasan ini berakar kuat pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, yang menjadi landasan bagi cara seorang Muslim berinteraksi dengan rezeki.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. (QS. Al-Baqarah: 168)
Ketika kita menyadari bahwa setiap suapan adalah amanah dari Allah yang akan dipertanggungjawabkan, aktivitas makan pun naik kelas. Ia menjadi ibadah yang nilainya bergantung pada niat kita—apakah untuk mensyukuri nikmat dan mengumpulkan energi untuk kebaikan, atau sekadar memuaskan nafsu.
2. "Halal" Saja Tidak Cukup, Ada Syarat Kedua yang Sering Dilupakan
Ayat di atas dengan jelas menyebutkan dua syarat: halalan thayyiban (halal lagi baik). Banyak dari kita hanya fokus pada kata "halal" tanpa memahami syarat kedua yang sering dilupakan: "thayyiban".
Jika 'halal' menjawab pertanyaan, 'Apakah ini diizinkan?', maka 'thayyiban' menggali lebih dalam dengan bertanya, 'Apakah ini baik untukku—untuk tubuh, jiwa, dan caraku mengonsumsinya?'
- Halal adalah tentang status hukum suatu makanan—apakah ia diizinkan oleh syariat atau tidak.
- Thayyiban adalah tentang kualitas, manfaat, dan keseimbangan. Ia mencakup aspek gizi, kebersihan, dan cara kita mengonsumsinya.
Makanan yang halal sekalipun, jika dikonsumsi secara berlebihan hingga menimbulkan mudarat (kerusakan atau bahaya), maka ia tidak lagi thayyiban. Sebaliknya, makanan yang bergizi tinggi namun didapat dari cara yang haram, maka ia akan menjadi racun bagi hati dan jiwa. Keseimbangan antara halal dan thayyiban adalah bagian dari kesucian hidup dan sebuah perintah agama, bukan sekadar pilihan etis atau gaya hidup sehat.
3. Kekayaan Sejati Bukan di Kulkas Penuh, Tapi di Hati yang Merasa Cukup
Dalam keseharian kita dapat merenungi ataupun menyoroti penyakit gaya hidup modern yang mendorong kita untuk berbelanja bukan karena kebutuhan sejati, tetapi karena ingin menampakkan kemampuan. Di tengah kelimpahan instan ini, makna sering kali hilang, dan kita terdorong untuk mengonsumsi demi memuaskan keinginan, bukan memenuhi kebutuhan.
Penawar untuk penyakit spiritual ini adalah qana'ah—sikap merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Qana'ah adalah kekayaan sejati yang membuat hati tenang. Ini adalah perisai yang melindungi kita dari budaya konsumtif yang mendorong kita makan dan berbelanja bukan karena kebutuhan, melainkan karena didorong oleh keinginan nafsu dan hasrat untuk pamer. Hidup bukan tentang memiliki segalanya, tetapi tentang menyadari bahwa apa yang kita miliki sudah cukup.
4. Teladan Rasulullah ﷺ Mengajarkan "Kenyang" yang Berbeda
Sebagai teladan agung, Rasulullah Muhammad ﷺ menunjukkan kepada kita arti keseimbangan yang sesungguhnya. Meskipun beliau adalah manusia termulia, hidupnya jauh dari kemewahan dan justru dipenuhi kesederhanaan.
Sebuah riwayat yang kuat menggambarkan pola hidup beliau:
“Keluarga Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum dalam dua hari, sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari no. 6454, Muslim no. 2970).
Kesederhanaan ini bukanlah karena ketidakmampuan, melainkan sebuah pilihan sadar. Ini adalah bagian dari tazkiyah—proses pensucian jiwa—melalui pola konsumsi yang seimbang. Teladan beliau adalah cermin langsung bagi zaman kita, di mana—kita sering kali makan bukan karena kebutuhan jasmani, melainkan karena didorong oleh keinginan nafsu semata.
Kesimpulan: Suapan Berikutnya Adalah Pilihan
Empat pelajaran ini mengajak kita untuk menata kembali hubungan kita dengan makanan. Makan adalah ibadah, bukan sekadar urusan perut. Keseimbangan antara yang halal dan thayyiban adalah kunci keberkahan. Kekayaan sejati terletak pada qana'ah, yaitu hati yang merasa cukup. Dan teladan Rasulullah ﷺ mengajarkan kita arti kesederhanaan sebagai jalan pensucian jiwa.
Setiap suapan adalah amanah dan setiap rasa cukup adalah anugerah. Pertanyaannya, kesadaran apa yang akan kita bawa pada suapan kita berikutnya?

No comments:
Post a Comment