Berbicara Sesuai Akal Zaman: Memahami Kallimū an-Nāsa Biqadri ‘Uqūlihim di Era Digital
Di
tengah derasnya arus informasi hari ini, kita hidup dalam zaman yang
paradoksal:
informasi melimpah, tetapi pemahaman sering kali dangkal.
Suara semakin keras, namun makna semakin kabur.
Di tengah kondisi itu, sebuah kaidah lama dari khazanah Islam terasa sangat relevan kembali:
كَلِّمُوا
النَّاسَ بِقَدْرِ عُقُولِهِمْ
Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka.
Ungkapan ini bukan sekadar nasihat etika berbicara, tetapi prinsip peradaban tentang bagaimana ilmu, kebenaran, dan nilai seharusnya disampaikan.
Kebenaran Tidak Selalu Ditolak, Kadang Tidak Dipahami
Banyak perdebatan hari ini bukan terjadi karena orang membenci kebenaran, tetapi karena cara menyampaikan kebenaran tidak sesuai dengan kemampuan memahami.
Di media sosial, kita sering menyaksikan:
- Diskusi berubah menjadi pertengkaran
- Nasihat dianggap menggurui
- Ilmu dianggap pamer kecerdasan
Padahal sering kali masalahnya bukan pada isi pesan, melainkan pada cara pesan itu dibungkus.
Dalam konteks inilah makna kallimū an-nāsa biqadri ‘uqūlihim menjadi sangat relevan:
berbicaralah bukan untuk menunjukkan bahwa kita tahu, tetapi agar orang lain mengerti.
Hikmah: Menjembatani Ilmu dan Manusia
Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran, tetapi juga hikmah—kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran itu.
Al-Qur’an tidak turun sekaligus, tetapi bertahap. Rasulullah ﷺ pun berbicara berbeda kepada setiap orang:
- Kepada orang awam, beliau menggunakan perumpamaan sederhana.
- Kepada sahabat yang cerdas, beliau membuka diskusi yang lebih dalam.
- Kepada orang yang sedang terluka, beliau lebih banyak diam dan menenangkan.
Inilah
seni komunikasi yang sering kita lupakan di era digital:
setiap orang berada pada “tahap akal” yang berbeda.
Relevansi di Zaman Media Sosial
Hari ini, semua orang bisa bicara, tapi tidak semua orang
mau mendengar.
Algoritma mempercepat emosi, bukan perenungan.
Akibatnya, kebenaran sering kalah oleh viralitas.
Dalam konteks ini, prinsip kallimū an-nāsa biqadri ‘uqūlihim mengajarkan kita untuk:
- Tidak memaksakan kedalaman kepada yang belum siap
- Tidak merendahkan orang yang belum sampai pada pemahaman kita
- Tidak mengukur kecerdasan orang hanya dari satu sudut pandang
Kadang, yang dibutuhkan bukan dalil tambahan, tetapi bahasa yang lebih manusiawi.
Antara Ilmu dan Empati
Ilmu
tanpa empati bisa berubah menjadi kekerasan simbolik.
Sebaliknya, empati tanpa ilmu bisa kehilangan arah.
Maka keseimbangannya adalah:
Berilmu dengan rendah hati, dan berbicara dengan empati.
Seseorang
mungkin belum siap menerima kebenaran hari ini,
tetapi sikap bijak kita hari ini bisa membuka pintu pemahaman esok hari.
Kebenaran yang Membimbing, Bukan Menghakimi
Kallimū
an-nāsa biqadri ‘uqūlihim
bukan ajakan untuk menurunkan standar kebenaran,
melainkan menaikkan kualitas cara kita menyampaikannya.
Karena
tujuan ilmu bukan untuk menang debat,
tetapi untuk menuntun manusia menuju kebaikan dengan kesadaran.
Dan di
zaman yang riuh ini, mungkin yang paling kita butuhkan bukan suara yang lebih
keras,
melainkan kata-kata yang lebih bijaksana.

No comments:
Post a Comment