Kritik Plato terhadap demokrasi ada di Republik (Buku VI dan VIII)
Bayangkan sebuah kapal besar sedang berlayar di tengah lautan.
Di atas kapal itu terdapat banyak orang. Mereka semua ingin menentukan ke mana kapal harus pergi. Masalahnya, tidak seorang pun dari mereka benar-benar memahami ilmu pelayaran.
Mereka tidak tahu membaca arah angin, tidak memahami bintang, tidak mengenal arus laut, dan tidak mampu memperkirakan badai.
Tetapi mereka semua merasa berhak memegang kemudi.
Lalu terjadilah perebutan.
Masing-masing berusaha mendapatkan dukungan awak kapal. Ada yang pandai berbicara, ada yang pandai menjanjikan sesuatu, ada yang pandai memuji, bahkan ada yang pandai menjilat pemilik kapal.
"Percayakan kemudi kepada saya."
"Saya tahu ke mana kapal ini harus pergi."
"Jika saya menjadi nahkoda, semua orang akan mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Sementara itu, seseorang yang benar-benar memahami ilmu pelayaran hanya duduk memperhatikan langit.
Ia menghitung arah angin, membaca posisi bintang, memperkirakan gelombang dan memahami tanda-tanda badai.
Namun, anehnya, justru orang seperti inilah yang dianggap tidak berguna.
"Dia hanya sibuk melihat bintang."
"Dia terlalu teoritis."
"Dia tidak pandai berbicara."
"Dia tidak mengerti apa yang diinginkan orang banyak."
Akhirnya, orang yang paling pandai memengaruhi awak kapal mendapatkan kemudi.
Inilah salah satu gambaran terkenal yang digunakan Plato dalam Republic (Politeia), Buku VI, untuk mengkritik demokrasi yang tidak ditopang oleh pengetahuan dan kebijaksanaan.
Kapal itu adalah negara
Bagi Plato, kapal tersebut dapat dibaca sebagai gambaran sebuah negara.
Kapal => negara.
Pemilik kapal => rakyat atau masyarakat.
Kemudi => kekuasaan.
Nahkoda yang memiliki ilmu => orang yang benar-benar memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan.
Para perebut kemudi => para pencari kekuasaan.
Persoalan utama Plato bukan sekadar siapa yang mendapatkan suara terbanyak.
Persoalannya jauh lebih mendasar:
Apakah seseorang layak menentukan arah perjalanan hanya karena ia berhasil mendapatkan dukungan, atau karena ia benar-benar mengetahui ke mana kapal harus diarahkan?
Di sinilah kritik Plato menjadi menarik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat membedakan antara popularitas dan kompetensi.
Orang yang paling banyak disukai belum tentu paling mengetahui.
Orang yang paling banyak berbicara belum tentu paling memahami.
Orang yang paling sering muncul belum tentu paling mampu.
Dan orang yang paling banyak mendapatkan suara belum tentu paling mengetahui arah yang benar.
Mengapa orang yang pandai merayu bisa lebih mudah menang?
Gagasan bahwa manusia tidak selalu memilih berdasarkan pengetahuan namun Plato memahami satu hal penting tentang manusia:
Manusia tidak selalu memilih berdasarkan pengetahuan.
Kita sering memilih berdasarkan apa yang menyenangkan hati.
Seseorang yang mengatakan:
"Saya akan memberikan apa yang kalian inginkan."
sering kali lebih menarik daripada seseorang yang mengatakan:
"Saya harus mengatakan sesuatu yang mungkin tidak kalian sukai, tetapi menurut pengetahuan saya, itulah yang diperlukan."
Yang pertama menawarkan kenyamanan.
Yang kedua menawarkan kebenaran.
Dan keduanya tidak selalu mendapatkan respons yang sama.
Dalam politik, retorika memiliki kekuatan yang luar biasa. Seseorang yang pandai berbicara dapat membuat sesuatu tampak benar, bahkan ketika ia tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang persoalan tersebut.
Di sinilah Plato melihat bahaya demagog.
Demagog bukan sekadar orang yang pandai berbicara. Dalam konteks kritik Plato, ia adalah orang yang mampu menggerakkan massa dengan memanfaatkan keinginan, emosi, dan opini mereka untuk memperoleh kekuasaan.
Maka persoalannya bukan:
"Apakah rakyat memiliki hak memilih?"
Tetapi:
"Bagaimana rakyat menentukan pilihan?"
Apakah berdasarkan pengetahuan?
Ataukah berdasarkan emosi?
Apakah berdasarkan pertimbangan jangka panjang?
Ataukah berdasarkan apa yang paling menyenangkan saat ini?
Dahulu di jaman Plato lebih dari dua ribu tahun yang lalu.
Tentu tidak mengenal televisi.
Tidak mengenal internet.
Tidak mengenal TikTok, Instagram, YouTube, X, Facebook, atau algoritma.
Namun, metafora kapalnya terasa sangat relevan untuk memahami zaman kita.
Hari ini, "perebutan kemudi" tidak selalu berlangsung di alun-alun kota.
Ia bisa berlangsung di layar handphone kita.
Seseorang membuat pernyataan yang sangat emosional.
Video berdurasi pendek menyebar.
Potongan kalimat menjadi viral.
Orang memberikan komentar.
Jumlah like meningkat.
Kemudian sesuatu yang viral perlahan dianggap sebagai sesuatu yang benar.
Padahal:
viralitas bukan kebenaran.
Jumlah penonton bukan ukuran kebenaran.
Jumlah like bukan ukuran kebijaksanaan.
Dan suara terbanyak bukan secara otomatis bukti bahwa suatu pendapat benar.
Di sinilah kritik Plato memperoleh relevansi baru.
Jika dahulu orang yang pandai berbicara di depan massa dapat mengendalikan opini, sekarang seseorang dapat mengendalikan perhatian massa melalui algoritma, judul sensasional, potongan video, dan permainan emosi.
Kapalnya sama.
Hanya lautnya yang berubah.
Namun ada satu persoalan yang lebih dalam
Metafora kapal Plato juga mengandung persoalan filosofis yang tidak sederhana.
Siapa yang menentukan:
"Siapa yang benar-benar tahu?"
Ini pertanyaan penting.
Sebab orang yang mengaku paling ahli juga bisa salah.
Seorang ilmuwan bisa keliru.
Seorang pemimpin bisa keliru.
Seorang filsuf bisa keliru.
Bahkan seseorang yang memiliki pengetahuan luas tetap memiliki kemungkinan menyalahgunakan kekuasaan.
Karena itu, persoalan politik tidak cukup diselesaikan dengan mencari "orang paling pintar".
Pengetahuan tanpa moral dapat menjadi alat kekuasaan.
Popularitas tanpa pengetahuan dapat menjadi alat manipulasi.
Dan kekuasaan tanpa keduanya dapat menjadi ancaman bagi masyarakat.
No comments:
Post a Comment