Ikhwan Saputera

Setiap Waktu adalah Belajar, Setiap Tempat adalah Sekolah, Setiap Orang adalah Guru

Tuesday, July 26, 2022

Gua Hira di Jabal Noor

Mekkah, Selasa 26 Juli 2022/ 27 Zulhijah 1443H


 

Jabal an-Noor (Arab: جَبَل ٱلنُّوْر,  atau Jabal an-Nūr,  'Gunung Cahaya' atau 'Bukit Pencerahan') adalah sebuah gunung di dekat Mekah di wilayah Hijaz, Arab Saudi.Gunung ini terdapat gua atau gua Hira' (Arab: غَار حِرَاء, atau Ghar-i-Hira, / 'Gua Hira'), yang memiliki makna luar biasa bagi umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana diketahui oleh nabi Islam Muhammad telah menghabiskan waktu di gua ini untuk khalwat/menyendiri/bermeditasi, dan secara luas diyakini bahwa di sinilah dia menerima wahyu pertamanya, yang terdiri dari lima ayat pertama Surat Al-Alaq dari malaikat Jibra'il. Ini adalah salah satu tempat wisata paling populer di Mekkah. Gunung itu sendiri tingginya hampir 640 m (2.100 kaki); namun satu hingga dua jam diperlukan untuk melakukan pendakian yang berat ke gua. Ada lebih kurang 1.750 anak tangga ke puncak yang, bahkan untuk individu yang bugar, dapat memakan waktu antara setengah jam dan satu setengah jam.

Di sinilah Nabi Muhammad SAW dikatakan menerima wahyu pertamanya dan menerima ayat kelima dari Quran, gunung itu diberi gelar Jabal an-Nūr ("Gunung Cahaya" atau "Gunung Pencerahan"). Tanggal turunnya wahyu pertama dikatakan pada malam hari pada tanggal 10 Agustus 610 M. Atau, Senin tanggal 21 Ramadhan, menjadikan Muhammad 40 tahun lunar, 6 bulan dan 12 hari, yaitu 39 tahun matahari, 3 bulan dan 22 tahun. hari.

Dalam pendapat yang lain surat al-Alaq ayat 1-5 turun pada malam Lailatul Qadar. Suatu malam yang oleh Al-Quran disebut "lebih baik dari seribu bulan." Pendapat mengenai turunnya pewahyuan, yang terjadi di malam Lailatul Qadar, didasarkan pada penjelasan Al-Qur`an di surat Al-Qadr ayat 1, surat Ad-Dukhan ayat 3-4 dan surat Al-Baqarah ayat 185. Meskipun masih ada perbedaan pendapat, banyak ulama berpandangan bahwa peristiwa turunnya Al-Qur`an turun (Nuzulul Quran) itu terjadi saat Lailatul Qadar yang datang pada malam 17 Ramadhan. Taufik Adnan Amal, dalam buku "Rekonstruksi Sejarah Al-Quran" (hlm. 71) menulis, mayoritas mufassir menyimpulkan, Nuzulul Quran terjadi pada 17 Ramadhan, karena merujuk penjelasan Al-Qur`an di surat Al-Anfal ayat 41: 


۞ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


Terjemah :

"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." 

 

Para mufassir menginterpretasikan bahwa hari "furqaan" atau "hari bertemunya dua pasukan" di ayat itu merujuk pada peristiwa pertempuran perang Badar yang berlangsung pada 17 Ramadan. 

Dalam "Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan", disebutkan pada suatu malam bulan ramadan tahun 610 Masehi bertempat di Gua Hira, beliau didatangi malaikat dan berkata, "Bacalah!". Beliau kemudian menjawab, "Aku tidak bisa membaca". Lalu, malaikat tersebut menariknya dan memeluk erat-erat hingga membuatnya merasa kepayahan. Kejadian ini terulang sebanyak tiga kali dan setelah melepaskan badannya, kemudian sang malaikat yang diketahui sebagai Jibril tersebut mengucapkan surah al-Alaq ayat 1 hingga 5. 


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢

Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣

Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia,

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤

yang mengajar (manusia) dengan pena.

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Peran Seorang Khadijah

Setelah itu, Rasulullah pulang ke rumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Usai meminta diselimuti oleh sang istri, kemudian beliau menceritakan yang telah terjadi sebelumnya di Gua Hira. 

Dengan penuh kasih, Khadijah mencoba menenangkan Nabi seraya berucap, “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan engkau. Sesungguhnya engkau selalu menyambung tali persaudaraan, selalu menanggung orang yang kesusahan, selalu mengupayakan apa yang diperlukan, selalu menghormati tamu dan membantu derita orang yang membela kebenaran.” Khadijah pun berharap Nabi Saw. menjadi seorang utusan penghujung zaman yang akan memandu umat manusia (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah).

Khadijah tidak tinggal diam melihat kegelisahan yang merundung Baginda Nabi Saw. Tak berselang lama, beliau mengajak Nabi menemui Waraqah bin Naufal, seorang pemeluk Nasrani yang alim kitab Injil. Kedatangan Khadijah menemui anak pamannya itu untuk lebih memastikan kejadian-kejadian yang dialami oleh Nabi adalah tanda-tanda kenabian dan kerasulan. Khadijah juga berharap, perjumpaannya itu bisa melepas kegundahan yang melanda hati Nabi Saw.

Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini.” Waraqah segera bertanya kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku, apakah yang kau lihat?” Lalu Nabi menceritakan apa yang beliau lihat dan alami di Gua Hira. Setelah mendengar semuanya, Waraqah berkata lagi kepada Nabi, “Itulah Namus (Jibril as) yang pernah diutus Allah kepada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.”

Mendengar itu, Nabi Saw. pun bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya, karena setiap utusan yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti akan dimusuhi. Kelak, engkau akan mengalami masa-masa seperti itu. Dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenaga.” Tidak lama dari perjumpaan itu, Waraqah bin Naufal tutup usia.

Betapa luar biasanya hikmah Allah SWT memilihkan Khadijah radhiallahu ‘anha untuk Nabi Muhammad SAW Istri yang hidup bersamanya saat wahyu pertama tiba. Istri yang mampu memberikan ketenangan saat seorang suami yang berjiwa tegar pun merasa kebingungan. Dia tetap tenang dan memberikan ketenangan.

Kemudian, ia yang pertama membenarkan risalah kerasulannya saat orang-orang mendustakannya. Ia tetap bersama suaminya di tengah tekanan kaumnya. Ia menolong dan membelanya.

Gua Hira

Salah satu ciri fisik yang membedakan Jabal Noor dari gunung dan bukit lainnya adalah puncaknya yang tidak biasa, yang membuatnya tampak seolah-olah dua gunung berada di atas satu sama lain. Puncak gunung ini di gurun pegunungan adalah salah satu tempat yang paling sepi (apalagi dimasa lalu, zaman Nabi SAW). Terdapat gua di dalamnya, yang menghadap ke arah Ka'bah, bahkan lebih terisolasi. Saat berdiri di halaman saat itu, orang hanya bisa melihat ke bebatuan di sekitarnya. Saat di posisi gua ini, orang dapat melihat bebatuan di sekitarnya serta bangunan yang berada ratusan meter di bawah dan ratusan meter hingga berkilo-kilometer jauhnya. Gua Hira adalah keduanya tanpa air atau tumbuh-tumbuhan selain beberapa duri, cukup curam.

Gunung ini terdiri dari batuan beku intrusif, didominasi oleh tonalit hornblende berbutir kasar berumur Prakambrium, dengan granodiorit subordinat.

Dengan berjalan kaki 1750 langkah untuk mencapainya, panjangnya sekitar 3,7 m (12 kaki) dan lebar 1,60 m (5 kaki 3 inci). Ia berada di ketinggian 270 m (890 kaki).Selama musim haji, diperkirakan lima ribu pengunjung naik ke sana setiap hari untuk melihat tempat di mana Nabi Muhammad SAW diyakini telah menerima wahyu pertama Al-Qur'an.Kebanyakan Muslim tidak menganggap mengunjungi gua sebagai bagian integral dari haji. 

Dalam sejarah gua Hira memainkan peran penting dalam As-Srah an-Nabawiyyah (biografi kenabian), itu tidak dianggap suci seperti situs lain di Mekah, seperti Masjid Al-Haram.

No comments:

Post a Comment